Pengesahan UU PLP : “Angin Segar” Bagi Insan Psikologi

sumber: google.com

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah secara resmi mengesahkan Rancangan Undang-Undang Pendidikan dan Layanan Psikologi atau RUU PLP menjadi Undang-Undang (UU) dalam Rapat Paripurna ke-28 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2021–2022 yang digelar di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada tanggal 7 Juli 2022 lalu.

Proses perjalanan RUU PLP ini dimulai dengan pengusulan RUU pada tahun 2020 hingga akhirnya disahkan pada tahun 2022. RUU PLP ini diusulkan dengan beberapa alasan, yakni salah satunya adalah agar terdapat pengaturan yang jelas mengenai praktik psikologi yang dapat benar-benar memberikan perlindungan dan kepastian hukum, karena sebelumnya belum pernah diatur dalam satu UU tersendiri.

Pengesahan UU PLP ini membawa angin segar bagi insan psikologi di Indonesia, karena dalam undang-undang ini akan menjadi pondasi dalam meningkatkan mutu praktik psikologi di Indonesia, memberikan perlindungan, tahapan penyelenggaraan layanan psikologi serta kepastian hukum yang jelas pada tenaga psikologi, pengguna layanan psikologi hingga masyarakat umum, dan meningkatkan kesejahteraan mental bagi masyarakat Indonesia.

Dalam UU PLP ini juga menjadi pondasi baru bagi sistem pendidikan psikologi di Indonesia, yaitu pada pendidikan profesi psikologi akan terbagi menjadi 3 yang meliputi kurikulum pendidikan profesi atau S-1 Plus, pendidikan spesialis dan pendidikan sub-spesialis. Tak hanya itu, UU PLP ini juga memaparkan tentang diperbolehkannya psikolog lulusan luar negeri untuk membuka praktek di Indonesia melalui proses dan persyaratan yang ada. Hal ini membuka lebih banyak peluang bagi mahasiswa psikologi untuk memperluas wawasan dan keahliannya lalu mengaplikasikannya di Indonesia. Adanya Undang-Undang Pendidikan dan layanan psikologi ini diharapkan memberikan perubahan-perubahan baik bagi insan psikologi dan tentunya dalam penyelenggaraannya pun perlu tetap dikawal.

REFERENSI:

Ramadhani, C. (2022, Juli 7). UU Pendidikan dan Layanan Psikologi Disahkan, tentang Apa?. Berita Satu https://www.beritasatu.com/news/948881/uu-pendidikan-dan-layanan-psikologi-disahkan-tentang-apa 

Nurita, D. (2022, Juli 7). DPR resmi sahkan RUU pendidikan dan layanan psikologi menjadi UU. Tempo. https://nasional.tempo.co/read/1609637/dpr-resmi-sahkan-ruu-pendidikan-dan-layanan-psikologi-menjadi-uu

Sekretariat Jenderal DPR RI. (2022, Juli 7). DPR setujui RUU pendidikan dan layanan psikologi menjadi UU. DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA. https://www.dpr.go.id/berita/detail/id/39728#:%7E:text=DPR%20RI%20menyetujui%20Rancangan%20Undang,7%2F7%2F2022)

Biografi Ivan Pavlov

Ivan Pavlov. Foto: Dok. wikimedia commons

Ivan Petrovich Pavlov lahir di Rjasan pada tanggal 14 September 1849 dan meninggal di Leningrad pada tanggal 27 Februari 1936. Dasar pendidikan Pavlov memang ilmu Faal. Pada tahun 1883 ia mendapat gelar Ph. D di Universitas St. Petersburg dan menjadi profesor di tahun 1890 dalam farmakologi di Akademi Kedokteran Militer di St. Petersburg dan Direktur Departemen Ilmu Faal di Institute of Experimental Medicine di St. Petersburg. Ia juga pernah mendapat Hadiah Nobel untuk penelitiannya tentang pencernaan pada 1904.

Meskipun bergerak di ilmu Faal, pranan Pavlov dalam psikologi sangat penting, karena studinya mengenai refleks-refleks akan menjadi dasar bagi perkembangan aliran psikologi behaviorisme. Pandangannya yang paling penting adalah bahwa aktivitas psikis sebenarnya tidak lain daripada rangkaian refleks-refleks belaka. Karena itu, untuk mempelajari aktivitas psikis (psikologi) kita cukup mempelajari refleks-refleks saja.

Penemuan Pavlov yang sangat menentukan dalam sejarah psikologi adalah hasil penyelidikannya tentang refleks berkondisi (conditioned reflex). Dengan penemuannya ini Pavlov meletakkan dasar-dasar behaviorisme, sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi penelitian-penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori tentang belajar. Bahkan American Psychological Association (A.P.A) mengakui bahwa Pavlov merupakan salah satu orang yang besar pengaruhnya dalam psikologi modern.

Pavlov menggunakan seekor anjing sebagai binatang percobaan. Dimana reaksi atas munculnya makanan, anjing itu mengeluarkan air liur yang dapat terlihat dengan jelas pada alat pengukur. Makanan yang keluar disebut rangsangan tak berkondisi (unconditioned stimulus) dan air liur yang keluar setelah anjing melihat makanan disebut refleks tak berkondisi (unconditioned reflex).

Kemudian percobaan berikutnya Pavlov membunyikan bel setiap kali ia hendak mengeluarkan makanan. Dengan demikian anjing akan mendengar bel dahulu sebelum melihat makanan muncul di depannya. Percobaan ini dilakukan berkali-kali dan selama itu keluarnya air liur diamati terus. Mulanya air liur hanya keluar setelah anjing melihat makanan (refleks tak berkondisi), lama lama air liur keluar setelah anjing mendengar bel (refleks berkondisi), bunyi bel jadinya adalah rangsangan berkondisi. Jika diteruskan, keluarnya air liur setelah mendengar bel akan tetap terjadi walaupun tidak ada lagi makanan yang mengikuti bel itu.

Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah bahwa tingkah laku sebenarnya tidak lain daripada rangkaian refleks berkondisi, yaitu refleks-refleks yang terjadi setelah adanya proses kondisioning (conditioning process) dimana refleks-refleks yang tadinya dihubungkan dengan rangsang-rangsang tak berkondisi lama-kelamaan dihubungan dengan rangsang berkondisi. Melalui eksperimen tersebut, Pavlov menyimpulkan bahwa perilaku muncul dan terbentuk melalui mekanisme stimulus – respon. Mekanisme ini dikenal juga sebagai psikologi S – R.

Referensi:

Irwanto,. Gunawan, Felicia Y. Sejarah Psikologi. 2018. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Sarwono, Sarlito W. Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi. 2000. Jakarta: Bulan Bintang

Biografi Kurt Lewin

pinterest.com

Lewin dilahirkan di Mogilno, Jerman pada tanggal 9 September 1890 dan meninggal pada tanggal 12 Februari 1947 di Newtonville, Massacussets, Amerika Serikat. Lewin termasuk orang yang harus melarikan diri dari Jerman ke Amerika karena ancaman Nazi. Sebelum berimigrasi ke Amerika, ia pernah bekerja sebagai militer dan mengajar di Universitas Berlin antara tahun 1921-1933. Setelah berada di Amerika Serikat ia bekerja di Lowa State University dan Massachussets Institute of Technology.

Lewin memiliki beberapa teori diantaranya ada teori lapangan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah perkawinan, rekonstruksi manusia korban perang, dan menerangkan tingkah laku kelompok. Teori lapangan ini memiliki paham bahwa tingkah laku seseorang adalah selalu memiliki tujuan tertentu dan tujuan itu adalah untuk mencari keseimbangan.

Adapun teorinya yang bersifat praktis adalah teori tentang konflik. Lewin membagi konflik menjadi 3 jenis :

  1. Konflik mendekat-mendekat. Konflik ini terjadi jika seseorang menghadapi dua objek yang sama sama bernilai positif. Orang itu akan mengalami konflik jika mendekati salah satu objek, akibatnya ia harus melepaskan salah satu yang lain
  2. Konflik menjauh-menjauh. Konflik ini terjadi jika seseorang berhadapan dengan dua objek yang sama sama bernilai negative tetapi ia tidak bisa menghindari kedua objek itu sekaligus. Jika ia menghindari objek pertama maka ia harus mendekati objek kedua yang juga tidak disukainya demikian pula sebaliknya
  3. Konflik mendekat-menjauh. Dalam konflik ini hanya terdapat satu objek yang bernilai positif dan negative sekaligus. Sehingga jawabannya adalah apakah ia akan menjauh atau mendekat.

Disamping teori-teorinya yang murni, Lewin terkenal pula dengan karya-karyanya dengan pengalaman teori-teori itu dalam berbagai bidang. Kurt Lewin memang terkenal sebagai orang yang pandia menggabungkan teori dengan praktik.

Referensi:

Sarwono, Sarlito W. 2000. Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan Tokoh-Tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang

Irwanto,. Gunawan, Felicia Y. 2018. Sejarah Psikologi Perkembangan Perspektif Teoretis. Jakarta: Gramedia

Biografi Wilhelm Wundt

Wilhelm Wundt. Sumber: Dok. Wikimedia Commons

Lahir dengan nama Wilhelm Maximilian Wundt pada tanggal 6 Agustus 1832 merupakan seorang dokter, psikolog, fisiolog, dan professor. Beliau disebut sebagai  penemu psikologi modern dan dianggap sebagai “Bapak Psikologi Eksperimental”. Pada tahun 1879, Wundt mendirikan laboratorium formal pertama secara resmi untuk riset psikologis di Universitas Leipzig dan membuat jurnal riset psikologis pertama pada tahun 1881. Tujuan pendirian laboratorium ini untuk menerapkan pemikiran-pemikirannya dalam mempelajari perbedaan dari pengalaman tentang kesadaran manusia yang mengarah pada beberapa tinjauan tentang biologi, psikodinamika, behavioral, humanistik, kognitif, lintas kultural atau kultur sosial. Dari sudut pandangnya tersebut Wilhelm Wundt ditetapkan sebagai tokoh psikolog pertama dan pendirian laboratorium tersebut menjadi awal penetapan psikologi sebagai disiplin ilmiah yang berpisah dari filsafat.

Wilhelm Wundt mempelopori strukturalisme sebagai dasar kajian psikologi. Menurut Wundt, psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kesadaran manusia dengan mengkaji proses kejiwaan dengan metode intropeksi yang berdasarkan pada filsafat. Wundt dan para strukturalis Jerman menghasilkan pendekataan untuk mengetahui kesadaran dan perilaku manusia dengan melalui fenomenologi yang mengutamakan pengalaman dan mekanisme yang mengutamakan percobaan.

Salah satu karya tulisnya yang penting dalam sejarah psikologi ialah “Principles of Physiological Psychology” yang dipublikasikan pada tahun 1874. Karyanya tersebut mencakup sistem dalam psikologi yang berupaya menyelidiki beberapa pengalaman langsung dari kesadaran seperti perasaan, emosi, gagasan, terutama dijelajahi melalui introspeksi. Dalam eksperimennya, Wundt memahami kecerdikan manusia dengan mengidentifikasi elemen pembentuk kesadaran manusia seperti halnya zat kimia yang bisa dibagi menjadi berbagai elemen. Pada akhirnya, Wilhelm Wundt meninggal di umur 88 tahun pada tanggal 31 Agustus 1920 di kota Jerman.

Referensi

https://en.wikipedia.org/wiki/Wilhelm_Wundt

https://p2k.unibabwi.ac.id/en4/2-2829-2718/Wundt_91981_stie-niba_p2k-unibabwi.html

http://webspace.ship.edu/cgboer/wundtjames.html

https://plato.stanford.edu/entries/wilhelm-wundt/

https://plato.stanford.edu/entries/wilhelm-wundt/#LifTim

Biografi Jean Piaget

Jean Piaget. Foto: Dok. Wikimedia Commons
Jean Piaget. Foto: Dok. Wikimedia Commons

Jean Piaget, salah satu pakar psikologi yang lahir tanggal 09 Agustus 1896 di Neuchatel. Piaget merupakan salah satu pakar psikologi paling berpengaruh sepanjang sejarah dan menjadi salah satu tokoh yang menjelaskan tentang teori perkembangan. Di dalam teorinya, Piaget menjelaskan bahwa perkembangan kognitif adalah tentang bagaimana anak mampu beradaptasi dan menginterpretasikan suatu objek maupun kejadian lain yang ada disekitarnya. Piaget membagi tahapan perkembangan kognitif ke dalam 4 tahap sebagai berikut :

● Tahap Sensorimotor (0-2 tahun) Pada tahap ini, bayi mulai belajar membangun suatu pemahaman mengenai dunia dengan cara mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman sensor (seperti melihat dan mendengar) melalui panca indera dengan tindakan fisik.

● Tahap Praoperasi (2-7 tahun) Di tahap ini, anak mulai menggunakan simbol-simbol, kata-kata atau gambar untuk melambangkan objek yang ada disekitarnya.

● Tahap Operasi Konkrit (7-11 tahun) Pada tahap ini anak mulai belajar mengembangkan operasi logis yang dicirikan dengan perkembangan dalam sistem pemikiran yang mulai didasari aturan-aturan yang lebih logis.

● Tahap Operasi Formal (> 11 tahun) Di tahap ini anak akan memperoleh kemampuan untuk bisa berpikir secara abstrak, menalar dengan logis, mampu menarik kesimpulan dari informasi yang diterima. Selain itu, tahapan ini akan terus berlanjut hingga dewasa dimana nantinya individu akan memahami hal-hal seperti cinta, bukti-bukti logis dan nilai atau value.

Di tahun 1918, Piaget juga menerbitkan novel intelektual yang berjudul “Recherché”. Piaget juga meraih gelar kehormatan pertama dari Universitas Harvard pada 1963 diikuti lebih dari empat puluh gelar kehormatan termasuk Erasmus Prize pada 1972. Piaget tetap berkarya setelah pensiun tahun 1971 dengan menulis buku tentang epistemologi konstruktivis dan beliau meninggal di tahun 1980.

Referensi:

Biografi Jean Piaget dan Perkembangan Kerangka Berpikir – JEJAK PENDIDIKAN

Biografi Singkat Jean Piaget – IndoPositive – Bahas Psikologi Sehari-Hari

Biografi Carl Gustav Jung

Carl Gustav Jung. Foto: Dok. Wikimedia Commons

Carl Gustav Jung lahir di Kesswill, Swiss, 26 Juli 1875 merupakan salah satu psikolog yang mencetuskan mengenai psikologi analitis. Jung terkenal karena teorinya tentang ketidaksadaran pada manusia, termasuk gagasan bahwa ada yang dinamakan ketidaksadaran kolektif yang dimiliki semua orang.

Dalam teori Carl Jung, ada tiga tingkatan kesadaran: pikiran sadar, ketidaksadaran pribadi , dan ketidaksadaran kolektif . Pikiran sadar mengacu pada segala peristiwa dan ingatan yang kita sadari. Lalu ketidaksadaran pribadi mengacu pada peristiwa dan pengalaman dari masa lalu kita sendiri yang tidak sepenuhnya dapat kita sadari. Sedangkan ketidaksadaran kolektif mengacu pada simbol serta pengetahuan yang mungkin tidak kita alami secara langsung, tetapi masih mempengaruhi kita. Ketidaksadaran kolektif ini terdiri dari arketipe, yang didefinisikan Jung sebagai suatu gambaran kuno yang berasal dari ketidaksadaran kolektif. Dengan kata lain, arketipe adalah konsep, simbol, dan citra penting dalam budaya manusia. Jung menggunakan istilah-istilah maskulinitas, feminitas, dan ibu sebagai contoh dari arketipe.

Pada tahun 1921, Jung mengeluarkan buku berjudul Psychological Types. Buku ini memperkenalkan dan menjelaskan beberapa tipe kepribadian yang berbeda, seperti introvert dan ekstrovert. Ekstrovert menurut Jung memiliki kecenderungan pribadi yang terbuka, memiliki jaringan sosial yang besar, bisa menikmati perhatian dari orang lain, dan senang menjadi bagian dari kelompok besar. Sedangkan Introvert juga memiliki teman dekat yang sangat mereka sayangi, tetapi mereka lebih cenderung membutuhkan banyak waktu sendiri, dan mungkin lebih lambat dalam menunjukkan diri mereka yang sebenarnya di sekitar orang baru. Carl Jung juga mempelopori salah satu jenis terapi yang disebut pula terapi analitis. Terapi ini bertujuan untuk bisa lebih memahami alam bawah sadar dan bagaimana hal tersebut dalam mempengaruhi perilaku pada klien. Pada terapi ini, terapis akan mencoba untuk memahami isi pikiran klien dan akan mencoba untuk mengatasi gejala atau perilaku yang mengganggu klien.

Referensi:

Biography of Carl Jung: Founder of Analytical Psychology (thoughtco.com)

Carl Gustav Jung – Biografi, Teori, Pandangan, dan Sejarah Hidup (gunabraham.com)

Carl Jung biografi bapak psikologi mendalam / Psikologi | Psikologi, filsafat dan pemikiran tentang kehidupan. (sainte-anastasie.org)

Muda Berprestasi

Medium Jiwa

(Inspiring Stories)

AA (nama samaran) ialah seorang atlet selam yang berprestasi berasal dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Peselam muda ini berkelahiran di Banjarnegara, 31 Desember 2002. AA tergabung dalam kontingen Indonesia di Vietnam dalam ajang olahraga Sea Games 2022. Gadis tangguh ini telah melewati banyak rintangan hingga pada titik ini. AA telah menekuni bidang olahraga renang sejak usianya masih 5 tahun. Hingga pencapaian terbesarnya saat ini ia berhasil meraih perak pada Sea Games 2022 di Vietnam.

Tentu saja peselam muda ini sudah banyak menoreh prestasi dalam bidangnya. Namun, seperti yang kita ketahui tentu saja hal itu tidak mudah. Dengan intensitas latihan yang tinggi sementara ia harus tetap menyeimbangkan dengan pendidikan akademiknya. Tekanan yang ia alami sangat berat. 

Iya stress rasanya, capek. Tekanan dari pelatih dituntut jadi juara.” ungkapnya dalam sesi wawancara. 

Sebagai seorang remaja tentu saja AA juga mengalami konflik-konflik sosial dengan teman sebayanya. 

Sedih banget, mau nyerah rasanya. Tekanan dari mana-mana. Kalau mau cerita ke temen takut ceritanya disebar kemana-mana.” jelasnya. 

Pada saat pelatnas gadis ini merasa sedih, ketika seharusnya ia mendapat dukungan dari teman-temannya justru malah terjadi konflik antara dirinya dengan temannya. Hal tersebut tentu saja mengganggu fokus dan konsentrasi pikirannya. 

AA juga bercerita bahwa ia pernah berkonsultasi dengan seorang psikolog dari Ikatan Psikologi Olahraga selama pelatnas. Dalam organisasi tersebut beranggotakan psikolog yang menangani masalah-masalah psikis pada atlet. Konsultasi tersebut dilaksanakan seminggu 2 kali, sekali dilaksanakan secara berkelompok dan sekali dilaksanakan secara individu. Peselam muda ini beranggapan bahwa hal tersebut dirasa penting dan seharusnya terus dilakukan secara rutin, tidak hanya selama pelatnas.

Selama proses konsultasi ia ditanya, dalam perhitungan skala, seberapa semangat yang ia miliki saat ini, kenapa alasannya, dan ia juga diminta untuk bercerita kondisi yang dialami sejak awal hingga saat ini. Hanya saja gadis ini merasa takut dan kurang nyaman saat berkonsultasi karena harus bercerita kepada orang yang baru ia temui. AA juga merasa khawatir bahwa ceritanya akan sampai ke orang lain selain pelatihnya. Selain itu durasi konsultasi yang singkat juga membuatnya kurang bisa menyampaikan banyak hal. Meski demikian, berkonsultasi dengan seorang ahli tetap dirasa membantu untuk mengurangi stressnya dan hipnoterapi membuatnya merasa lebih tenang.

Hipnoterapi merupakan tipe terapi yang menggunakan teknik hipnosis, yaitu tindakan memasuki alam bawah sadar seseorang untuk memberikan sugesti tertentu. Pada kasus depresi, hipnoterapi bertujuan untuk membuat seseorang fokus dan rileks, sehingga perasaan dan emosi negatif di masa lalu bisa dikendalikan.

AA sendiri lebih senang saat menjalani konsultasi secara kelompok. Karena dalam konsultasi kelompok lebih banyak game dan pelatihan. Gadis ini lebih merasa enjoy dan asyik saat berkonsultasi secara kelompok. Sehingga ini dapat mengurangi rasa jenuhnya. Selain itu konsultasi secara berkelompok ini juga bertujuan untuk meningkatkan solidaritas antaranggota kelompok atau tim. 

Dalam kesehariannya jika ia merasa stress dan tertekan dengan kondisinya remaja ini lebih memilih untuk tidur, berdzikir mendekatkan diri kepada Tuhan, atau pergi bertemu teman-temannya. Ia juga senang bepergian seorang diri ke tempat-tempat pusat perbelanjaan atau hanya sekedar menonton film di bioskop. 

Walaupun AA memiliki ketakutan akan terulangnya konflik-konflik sosial dengan teman dan keluarga saat dalam persiapan pertandingan yang sangat mengganggu fokus dan konsentrasinya tetapi persoalan tersebut tidak memadamkan api semangatnya. Pemuda yang tangguh ini merasa tidak menyangka bahwa dirinya mampu melewati titik terberat dalam hidupnya. Saat ini AA merasa bahagia karena telah menjadi seseorang yang lebih kuat dan merasa siap juga berani untuk menghadapi tantangan-tantangan yang menantinya di depan. Baginya dukungan dan doa dari keluarga dan teman-temannya merupakan hal yang sangat penting untuknya dapat berdiri kuat hingga saat ini.

*Narasumber AA memilih untuk tidak menyebutkan nama asli dalam artikel

Capcipcup Pilihan Anak

Medium Jiwa

“Pa, Ma, aku mau lanjut ke Psikologi aja, ya?”

“Psikologi? Kenapa ga yang lain, sih?”

Tahukah teman-teman? Setiap tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional di Indonesia. Penetapan Hari Anak Nasional ini dinilai penting, mengingat anak-anak merupakan penerus generasi dan bagian dari aset kemajuan bangsa. Adanya hari perayaan ini tentu diharapkan semua lapisan masyarakat, terutama para orang tua untuk lebih memperhatikan anak-anak. Menurut Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Indonesia (KPPAI), peringatan Hari Anak Nasional dimaknai sebagai bentuk kepedulian seluruh bangsa terhadap perlindungan anak Indonesia agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. 

Keluarga, khususnya keluarga inti yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dan anak itu sendiri merupakan suatu sistem atau organisasi sosial alamiah terkecil yang memungkinkan terjadinya proses interaksi sosial dan tempat bagi anak menjalani proses tumbuh dan berkembang. Hampir pada umumnya anak-anak tumbuh dan berkembang dengan dibimbing oleh keluarga dan orang tua mereka. Orang tua berperan penting membantu anak mengembangkan potensi dan mencapai tugas perkembangan mereka sehingga anak tumbuh dengan memiliki rasa percaya diri (self confidence) dan keyakinan pada kemampuannya (self efficacy). Terlebih ketika anak beranjak usia remaja, seperti menurut Arnett (2009) bahwa masa tersebut merupakan masa dimana individu mempersiapkan diri untuk mengambil peran dan tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, serta menjadikan dirinya sebagai pusat peran dalam mengambil keputusan.

Seringkali kita temui dalam keluarga, anak lebih diposisikan sebagai objek daripada subjek. Objek yang dimaksud dalam konteks ini adalah peran anak dalam pemilihan keputusan, anak tidak dilibatkan dalam diskusi karena dianggap belum cukup mampu untuk menentukan suatu pilihan. Namun, apakah anak hanya berperan untuk mendengarkan dan menuruti segala keinginan orang tua saja?

Dapat dijumpai kasus di lingkungan sekitar kita, di mana orang tua lebih memaksakan kehendaknya tanpa mempertimbangkan kembali kondisi anak ataupun tanpa melakukan diskusi terlebih dahulu dengan anak. Anak cenderung kurang atau bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan mengambil keputusannya sendiri, mereka dituntut untuk hanya mengikuti permintaan orang tua.

Salah satu persoalan yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari adalah pemilihan jurusan studi di jenjang perguruan tinggi. Ketika anak memiliki keinginan untuk memilih suatu jurusan yang sangat ia minati tetapi di lain sisi kedua orang tua tidak mendukung pilihannya tersebut sehingga terjadi perdebatan yang menyebabkan motivasi anak menurun dan mendapat tekanan stress. Pada akhirnya menyebabkan anak tidak menikmati studi yang dijalani dan mendapatkan hasil yang kurang memuaskan, apalagi ditambah ekspektasi untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Perlakuan tersebut merupakan bentuk ketidakadilan pada anak dan termasuk dalam pola push parenting, yaitu pola pengasuhan yang otoriter di mana orang tua hanya mendukung keinginan anak yang sesuai dengan keinginan mereka sendiri.

Padahal setiap anak memiliki bakat, kemampuan, dan mindset tersendiri yang unik dan patut untuk dihargai selayaknya manusia pada umumnya. Jika anak tidak diberikan kesempatan untuk berkomunikasi, berdiskusi, dan memilih keputusan untuk dirinya sendiri dapat menyebabkan beberapa dampak, seperti berikut:

  1. Anak menjadi mudah merasa takut, panik, dan putus asa akan ekspektasi yang terbentuk karena adanya tuntutan dari orang tua.
  2.  Rasa tertekan atau stress secara berlebihan, serta rendahnya self esteem.
  3. Tuntutan yang dipaksa secara terus menerus akan membuat anak sering membangkang dan sulit diatur sehingga mengganggu fase perkembangan.

Sebagai orang tua maupun orang dewasa yang berada di sekitar anak-anak, marilah kita hargai dan dengarkan keinginan mereka. Bimbing anak selama pengambilan keputusan yang diinginkan, bukan memaksakannya. Berikan mereka kesempatan untuk berpendapat, berekspresi dengan bebas, dan mengambil keputusan sebagai bentuk dukungan perkembangan hidup anak-anak sehingga mereka sadar akan tanggung jawab dan konsekuensi yang perlu dihadapi nantinya. 

Harapan untuk Hari Anak Nasional 2022, anak-anak lebih diberi kesempatan dan dibimbing sebaik mungkin dalam mengambil keputusan. Ajak anak berkomunikasi– berdiskusi, serta pahami keinginan mereka dengan menjadi pendengar yang baik agar tercipta lingkup psikologis yang positif bagi anak sehingga mengembangkan generasi penerus bangsa yang matang dan sehat secara psikologis. 

Selamat Hari Anak Nasional!

Referensi:

MIFTAHUSYAIAN, M. (2007). KEBEBASAN ANAK BEREKSPRESI DALAM KELUARGA PRESPEKTIF PENDIDIKAN DAN SOSIAL. EGALITA.

Rini, Y. S. (2014). Komunikasi Orangtua-Anak dalam Pengambilan Keputusan Pendidikan. Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi, 112-122.

Raditya, I. N. (2021, Juli 21). Hari Anak Nasional 2021: Ketahui Sejarah, Logo & Tema Peringatannya. Diakses melalui tirto.id: https://tirto.id/ghUf

Krisis pendidikan bagi anak indonesia, separah apakah? (2021, Juli 22). Retrieved from BEM FIB UNS: https://bemfib.uns.ac.id/index.php/2021/07/22/hari-anak-nasional/

Raihanal Miski, M. M. (2017). PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA REMAJA YANG MENGALAMI PENGASUHAN OTORITER. JURNAL ECOPSY, 4(3), 157-162.

Satata, D. B. (2021, Juli). Self-Disclosure Sifat Independen Anak Tunggal pada Keluarga Broken Home. JURNAL PSIKOLOGI PERSEPTUAL, 6(1), 53-65

PUSPITASARI, S. W. (2012). ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN FOKUS UTAMA KELUARGA MENDERITA DIABETES MELLITUS PADA KELUARGA TN.U KHUSUSNYA TN. U DI DESA KEDUNGWULUH LOR RT 02/RW 04 KECAMATAN PATIKRAJA. Purwokerto: Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

https://ditpsd.kemdikbud.go.id/artikel/detail/selamat-hari-anak-nasional

https://motherandbeyond.id/read/19281/bahaya-push-parenting-memaksakan-kehendak-pada-anak

https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/7614/05.1%20bab%201.pdf?sequence=5&isAllowed=y

https://health.detik.com/anak-dan-remaja/d-2417470/psikolog-anak-itu-bukan-cetakan-orang-tua

Biografi Alfred Binet

Sumber: google.com

Alfred Binet adalah seorang psikolog, pedagog, dan ahli grafologi Prancis, yang juga dikenal karena kontribusinya pada bidang psikologi eksperimental, psikometri diferensial, dan atas kontribusinya yang cukup besar pada pengembangan pendidikan. Ia berasal dari kota Nice, Prancis dan lahir pada 8 Juli 1857. Binet menjadi pendiri dari psikologi eksperimental di Prancis serta pendiri dari Societe Libre pour I’Etude Psychologique de I’Enfant, dan berubah nama menjadi Societe Alfred Binet setelah ia meninggal. Di tahun 1895, Binet menjadi direktur Laboratorium Psikologi Fisiologis di Universitas Sorbonne, Paris. Kontribusi Binet dalam bidang pengembangan pendidikan membuatnya dianggap sebagai bapak tes kecerdasan.

Pada tahun 1905 dan 1911 Binet danThéodore Simon mencoba mengembangkan skala yang dapat digunakan untuk pengukuran kecerdasan anak. Binet juga menerbitkan beberapa karya tentang sugesti di tahun 1900 dan histeria di tahun 1910. Test yang dikembangkan oleh Binet merupakan test intelegensi yang pertama, meskipun kemudian konsep mengenai usia mental mengalami revisi sebanyak dua kali sebelum dijadikan dasar dalam test IQ.

Pada tahun 1914, tiga tahun setelah Binet wafat, seorang psikolog Jerman, William Stern, mengusulkan bahwa dengan membagi usia mental anak dengan usia kronological (Chronological Age atau CA), maka akan lebih memudahkan untuk memahami apa yang dimaksud “Intelligence Quotient” atau IQ Rumus ini kemudian direvisi oleh Lewis Terman, dari Stanford University, yang mengembangkan test untuk orang-orang Amerika. Perhitungan statistik baru inilah yang kemudian menjadi definisi atau rumus untuk menentukan Intelligensi seseorang: IQ=MA/CA*100. Test IQ inilah yang dikemudian hari dinamai Stanford-Binet Intelligence Test yang masih sangat populer dan masih banyak digunakan  sampai dengan hari ini.

Referensi:

https://id.thpanorama.com/articles/curiosidades/alfred-binet-biografa-y-obra-del-padre-del-test-de-inteligencia.html

Kenapa Harus ke Psikolog? Kan Ada Internet

Medium Jiwa

Perkembangan teknologi yang semakin hari semakin berkembang telah mengubah kehidupan manusia. Teknologi informasi dan komunikasi menjadi satu contoh perkembangan teknologi yang paling pesat. Perkembangan teknologi informasi ternyata memiliki berbagai dampak, salah satunya adalah terbukanya kesempatan luas bagi semua orang untuk mengakses informasi apa saja yang tersedia di internet maupun sosial media. Tetapi kualitas dari informasi-informasi tersebut masih patut dipertanyakan, bisa saja informasi yang kita dapatkan justru menyesatkan, bukan?

Dengan adanya perkembangan teknologi ini memudahkan pencarian informasi terutama mengenai dunia kesehatan. Hal tersebut ditandai dengan munculnya berbagai laman yang menawarkan pelayanan kesehatan (Ryan & Wilson, 2008). Rasa ingin tahu manusia yang tinggi membuat kita ingin segera mencari jawaban yang kita perlukan, terlebih jika mempertanyakan kondisi diri kita. Pasien yang mengalami sejumlah keluhan dapat langsung menanyakan atau membaca informasi yang berkaitan dengan keluhannya di internet. Sehingga dengan cara tersebut pasien bisa mendiagnosis dirinya sendiri setelah melihat informasi (Tang & Ng, 2006) atau biasa kita kenal dengan istilah self diagnose.

Self diagnose atau mendiagnosis diri sendiri merupakan kegiatan memutuskan penyakit yang dirasakan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki atau setelah membaca informasi yang berkaitan dengan keluhan tersebut. Menurut White dan Horvitz (2009), self diagnose adalah upaya memutuskan bahwa diri sedang mengidap suatu penyakit berdasarkan informasi yang diketahui. Orang yang terbiasa mendiagnosis diri sendiri secara berlebihan disebut sebagai cyberchondria. Namun, seringkali informasi yang tersedia di halaman tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan secara medis atau tidak evidence based medicine (EBM). Padahal, seperti yang teman-teman ketahui, seharusnya seseorang baru bisa dinyatakan memiliki gangguan psikologis setelah mendapatkan penanganan khusus dan pernyataan langsung dari ahli profesional, yaitu psikolog atau psikiater. Di era modern ini, penggunaan internet dan sosial media menjadi alternatif bagi para individu tak hanya untuk berekspresi tetapi juga sebagai sumber informasi. Tidak sedikit dari masyarakat yang mencari informasi terkait gejala-gejala yang dirasakan hingga melakukan diagnosis mandiri secara mentah-mentah dan banyak pula dari mereka yang meyakini bahwa mereka mengalami suatu gangguan berdasarkan hasil pencarian yang didapatkan. Terdapat beberapa “tes” di berbagai website berbentuk pertanyaan ataupun pernyataan yang mengklaim mampu mengetahui kondisi mental seseorang.

Apakah kalian tahu? Self diagnose termasuk perilaku yang berbahaya karena selain bisa berdampak kepanikan, kegiatan tersebut juga dapat menyebabkan seseorang mengonsumsi obat yang tidak sesuai dan seseorang bisa saja menyebarkan info yang salah kepada orang lain sehingga secara beruntutan menyebabkan kekacauan lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Imas Maskanah (2022), diketahui bahwa tiga dari empat responden penelitian menyatakan bahwa self diagnose memberikan dampak yang buruk terhadap kesehatan mental seperti kecemasan berlebih, takut terhadap hal yang belum tentu terjadi, tertekan dan stres. Hal tersebut mengganggu responden dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Dilansir dari detik.com, Psikolog Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Retha Arjadi mengatakan bahwa self diagnose tentu akan membawa dampak yang berbahaya bagi diri sendiri. “Jika seseorang meyakini bahwa dia depresi, dapat merusak hubungan sama dirinya sendiri, serta orang lain, jadi sangat tidak disarankan untuk menetapkan penyakit tanpa konsultasi, terlebih penyakit yang cenderung menjurus kesehatan mental,” ungkapnya. Kemudian, dikutip dari artikel Gramedia, psikolog dari Universitas Indonesia mengatakan bahwa mendiagnosa diri sendiri mengidap suatu penyakit atau gangguan tertentu akan menyebabkan berbagai kekhawatiran yang tidak perlu dan jika kekhawatiran tersebut memburuk maka akan mengembangkan gangguan kecemasan.

     Oleh karena itu, meskipun saat ini teknologi berkembang dengan sangat pesat namun tidak selamanya berdampak positif. Salah satu dampaknya, yaitu self diagnose atau kegiatan memutuskan penyakit yang dirasakan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki atau setelah membaca informasi yang berkaitan dengan keluhan yang dialami. Terlebih jika informasi yang didapat berasal dari internet yang mana hal ini dapat berdampak buruk, mulai dari panik atau merasa cemas, stress, hingga mengonsumsi obat-obatan yang tidak sesuai. Perlu diingat bahwa tidak semua informasi diinternet akurat karena bisa jadi ada faktor-faktor lain yang hanya dapat dipahami oleh ahlinya terkait gejala gangguan mental yang dirasakan. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan maka sebaiknya mendiagnosis diri sendiri perlu kita hindari dan cegah. Dengan demikian, alangkah baiknya konsultasikan langsung terhadap ahlinya dalam hal ini, yaitu seorang psikolog.

Referensi:

Akbar, M. F. (2020). Analisis Pasien Self-Diagnosis Berdasarkan Internet pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama. In Mutu Pelayanan Kesehatan.

Maskanah, I. (2022). Fenomena Self-Diagnosis di Era Pandemi COVID-19 dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental The Phenomenon of Self-Diagnosis in the Era of the COVID-19 Pandemic and Its Impact on Mental Health. 1(1), 1–10.

Utama, J., S., A. (2016). Psikologi dan Teknologi Informasi (Seri Sumbangan Pemikiran Psikologi Untuk Bangsa 2). Jakarta: HIMPSI. https://publikasi.himpsi.or.id/wp-content/uploads/fliphtml5/2/flipbook.html#p=477