Capcipcup Pilihan Anak

Medium Jiwa

“Pa, Ma, aku mau lanjut ke Psikologi aja, ya?”

“Psikologi? Kenapa ga yang lain, sih?”

Tahukah teman-teman? Setiap tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional di Indonesia. Penetapan Hari Anak Nasional ini dinilai penting, mengingat anak-anak merupakan penerus generasi dan bagian dari aset kemajuan bangsa. Adanya hari perayaan ini tentu diharapkan semua lapisan masyarakat, terutama para orang tua untuk lebih memperhatikan anak-anak. Menurut Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Indonesia (KPPAI), peringatan Hari Anak Nasional dimaknai sebagai bentuk kepedulian seluruh bangsa terhadap perlindungan anak Indonesia agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. 

Keluarga, khususnya keluarga inti yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dan anak itu sendiri merupakan suatu sistem atau organisasi sosial alamiah terkecil yang memungkinkan terjadinya proses interaksi sosial dan tempat bagi anak menjalani proses tumbuh dan berkembang. Hampir pada umumnya anak-anak tumbuh dan berkembang dengan dibimbing oleh keluarga dan orang tua mereka. Orang tua berperan penting membantu anak mengembangkan potensi dan mencapai tugas perkembangan mereka sehingga anak tumbuh dengan memiliki rasa percaya diri (self confidence) dan keyakinan pada kemampuannya (self efficacy). Terlebih ketika anak beranjak usia remaja, seperti menurut Arnett (2009) bahwa masa tersebut merupakan masa dimana individu mempersiapkan diri untuk mengambil peran dan tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, serta menjadikan dirinya sebagai pusat peran dalam mengambil keputusan.

Seringkali kita temui dalam keluarga, anak lebih diposisikan sebagai objek daripada subjek. Objek yang dimaksud dalam konteks ini adalah peran anak dalam pemilihan keputusan, anak tidak dilibatkan dalam diskusi karena dianggap belum cukup mampu untuk menentukan suatu pilihan. Namun, apakah anak hanya berperan untuk mendengarkan dan menuruti segala keinginan orang tua saja?

Dapat dijumpai kasus di lingkungan sekitar kita, di mana orang tua lebih memaksakan kehendaknya tanpa mempertimbangkan kembali kondisi anak ataupun tanpa melakukan diskusi terlebih dahulu dengan anak. Anak cenderung kurang atau bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan mengambil keputusannya sendiri, mereka dituntut untuk hanya mengikuti permintaan orang tua.

Salah satu persoalan yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari adalah pemilihan jurusan studi di jenjang perguruan tinggi. Ketika anak memiliki keinginan untuk memilih suatu jurusan yang sangat ia minati tetapi di lain sisi kedua orang tua tidak mendukung pilihannya tersebut sehingga terjadi perdebatan yang menyebabkan motivasi anak menurun dan mendapat tekanan stress. Pada akhirnya menyebabkan anak tidak menikmati studi yang dijalani dan mendapatkan hasil yang kurang memuaskan, apalagi ditambah ekspektasi untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Perlakuan tersebut merupakan bentuk ketidakadilan pada anak dan termasuk dalam pola push parenting, yaitu pola pengasuhan yang otoriter di mana orang tua hanya mendukung keinginan anak yang sesuai dengan keinginan mereka sendiri.

Padahal setiap anak memiliki bakat, kemampuan, dan mindset tersendiri yang unik dan patut untuk dihargai selayaknya manusia pada umumnya. Jika anak tidak diberikan kesempatan untuk berkomunikasi, berdiskusi, dan memilih keputusan untuk dirinya sendiri dapat menyebabkan beberapa dampak, seperti berikut:

  1. Anak menjadi mudah merasa takut, panik, dan putus asa akan ekspektasi yang terbentuk karena adanya tuntutan dari orang tua.
  2.  Rasa tertekan atau stress secara berlebihan, serta rendahnya self esteem.
  3. Tuntutan yang dipaksa secara terus menerus akan membuat anak sering membangkang dan sulit diatur sehingga mengganggu fase perkembangan.

Sebagai orang tua maupun orang dewasa yang berada di sekitar anak-anak, marilah kita hargai dan dengarkan keinginan mereka. Bimbing anak selama pengambilan keputusan yang diinginkan, bukan memaksakannya. Berikan mereka kesempatan untuk berpendapat, berekspresi dengan bebas, dan mengambil keputusan sebagai bentuk dukungan perkembangan hidup anak-anak sehingga mereka sadar akan tanggung jawab dan konsekuensi yang perlu dihadapi nantinya. 

Harapan untuk Hari Anak Nasional 2022, anak-anak lebih diberi kesempatan dan dibimbing sebaik mungkin dalam mengambil keputusan. Ajak anak berkomunikasi– berdiskusi, serta pahami keinginan mereka dengan menjadi pendengar yang baik agar tercipta lingkup psikologis yang positif bagi anak sehingga mengembangkan generasi penerus bangsa yang matang dan sehat secara psikologis. 

Selamat Hari Anak Nasional!

Referensi:

MIFTAHUSYAIAN, M. (2007). KEBEBASAN ANAK BEREKSPRESI DALAM KELUARGA PRESPEKTIF PENDIDIKAN DAN SOSIAL. EGALITA.

Rini, Y. S. (2014). Komunikasi Orangtua-Anak dalam Pengambilan Keputusan Pendidikan. Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi, 112-122.

Raditya, I. N. (2021, Juli 21). Hari Anak Nasional 2021: Ketahui Sejarah, Logo & Tema Peringatannya. Diakses melalui tirto.id: https://tirto.id/ghUf

Krisis pendidikan bagi anak indonesia, separah apakah? (2021, Juli 22). Retrieved from BEM FIB UNS: https://bemfib.uns.ac.id/index.php/2021/07/22/hari-anak-nasional/

Raihanal Miski, M. M. (2017). PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA REMAJA YANG MENGALAMI PENGASUHAN OTORITER. JURNAL ECOPSY, 4(3), 157-162.

Satata, D. B. (2021, Juli). Self-Disclosure Sifat Independen Anak Tunggal pada Keluarga Broken Home. JURNAL PSIKOLOGI PERSEPTUAL, 6(1), 53-65

PUSPITASARI, S. W. (2012). ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN FOKUS UTAMA KELUARGA MENDERITA DIABETES MELLITUS PADA KELUARGA TN.U KHUSUSNYA TN. U DI DESA KEDUNGWULUH LOR RT 02/RW 04 KECAMATAN PATIKRAJA. Purwokerto: Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

https://ditpsd.kemdikbud.go.id/artikel/detail/selamat-hari-anak-nasional

https://motherandbeyond.id/read/19281/bahaya-push-parenting-memaksakan-kehendak-pada-anak

https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/7614/05.1%20bab%201.pdf?sequence=5&isAllowed=y

https://health.detik.com/anak-dan-remaja/d-2417470/psikolog-anak-itu-bukan-cetakan-orang-tua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *