Kenapa Harus ke Psikolog? Kan Ada Internet

Medium Jiwa

Perkembangan teknologi yang semakin hari semakin berkembang telah mengubah kehidupan manusia. Teknologi informasi dan komunikasi menjadi satu contoh perkembangan teknologi yang paling pesat. Perkembangan teknologi informasi ternyata memiliki berbagai dampak, salah satunya adalah terbukanya kesempatan luas bagi semua orang untuk mengakses informasi apa saja yang tersedia di internet maupun sosial media. Tetapi kualitas dari informasi-informasi tersebut masih patut dipertanyakan, bisa saja informasi yang kita dapatkan justru menyesatkan, bukan?

Dengan adanya perkembangan teknologi ini memudahkan pencarian informasi terutama mengenai dunia kesehatan. Hal tersebut ditandai dengan munculnya berbagai laman yang menawarkan pelayanan kesehatan (Ryan & Wilson, 2008). Rasa ingin tahu manusia yang tinggi membuat kita ingin segera mencari jawaban yang kita perlukan, terlebih jika mempertanyakan kondisi diri kita. Pasien yang mengalami sejumlah keluhan dapat langsung menanyakan atau membaca informasi yang berkaitan dengan keluhannya di internet. Sehingga dengan cara tersebut pasien bisa mendiagnosis dirinya sendiri setelah melihat informasi (Tang & Ng, 2006) atau biasa kita kenal dengan istilah self diagnose.

Self diagnose atau mendiagnosis diri sendiri merupakan kegiatan memutuskan penyakit yang dirasakan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki atau setelah membaca informasi yang berkaitan dengan keluhan tersebut. Menurut White dan Horvitz (2009), self diagnose adalah upaya memutuskan bahwa diri sedang mengidap suatu penyakit berdasarkan informasi yang diketahui. Orang yang terbiasa mendiagnosis diri sendiri secara berlebihan disebut sebagai cyberchondria. Namun, seringkali informasi yang tersedia di halaman tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan secara medis atau tidak evidence based medicine (EBM). Padahal, seperti yang teman-teman ketahui, seharusnya seseorang baru bisa dinyatakan memiliki gangguan psikologis setelah mendapatkan penanganan khusus dan pernyataan langsung dari ahli profesional, yaitu psikolog atau psikiater. Di era modern ini, penggunaan internet dan sosial media menjadi alternatif bagi para individu tak hanya untuk berekspresi tetapi juga sebagai sumber informasi. Tidak sedikit dari masyarakat yang mencari informasi terkait gejala-gejala yang dirasakan hingga melakukan diagnosis mandiri secara mentah-mentah dan banyak pula dari mereka yang meyakini bahwa mereka mengalami suatu gangguan berdasarkan hasil pencarian yang didapatkan. Terdapat beberapa “tes” di berbagai website berbentuk pertanyaan ataupun pernyataan yang mengklaim mampu mengetahui kondisi mental seseorang.

Apakah kalian tahu? Self diagnose termasuk perilaku yang berbahaya karena selain bisa berdampak kepanikan, kegiatan tersebut juga dapat menyebabkan seseorang mengonsumsi obat yang tidak sesuai dan seseorang bisa saja menyebarkan info yang salah kepada orang lain sehingga secara beruntutan menyebabkan kekacauan lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Imas Maskanah (2022), diketahui bahwa tiga dari empat responden penelitian menyatakan bahwa self diagnose memberikan dampak yang buruk terhadap kesehatan mental seperti kecemasan berlebih, takut terhadap hal yang belum tentu terjadi, tertekan dan stres. Hal tersebut mengganggu responden dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Dilansir dari detik.com, Psikolog Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Retha Arjadi mengatakan bahwa self diagnose tentu akan membawa dampak yang berbahaya bagi diri sendiri. “Jika seseorang meyakini bahwa dia depresi, dapat merusak hubungan sama dirinya sendiri, serta orang lain, jadi sangat tidak disarankan untuk menetapkan penyakit tanpa konsultasi, terlebih penyakit yang cenderung menjurus kesehatan mental,” ungkapnya. Kemudian, dikutip dari artikel Gramedia, psikolog dari Universitas Indonesia mengatakan bahwa mendiagnosa diri sendiri mengidap suatu penyakit atau gangguan tertentu akan menyebabkan berbagai kekhawatiran yang tidak perlu dan jika kekhawatiran tersebut memburuk maka akan mengembangkan gangguan kecemasan.

     Oleh karena itu, meskipun saat ini teknologi berkembang dengan sangat pesat namun tidak selamanya berdampak positif. Salah satu dampaknya, yaitu self diagnose atau kegiatan memutuskan penyakit yang dirasakan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki atau setelah membaca informasi yang berkaitan dengan keluhan yang dialami. Terlebih jika informasi yang didapat berasal dari internet yang mana hal ini dapat berdampak buruk, mulai dari panik atau merasa cemas, stress, hingga mengonsumsi obat-obatan yang tidak sesuai. Perlu diingat bahwa tidak semua informasi diinternet akurat karena bisa jadi ada faktor-faktor lain yang hanya dapat dipahami oleh ahlinya terkait gejala gangguan mental yang dirasakan. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan maka sebaiknya mendiagnosis diri sendiri perlu kita hindari dan cegah. Dengan demikian, alangkah baiknya konsultasikan langsung terhadap ahlinya dalam hal ini, yaitu seorang psikolog.

Referensi:

Akbar, M. F. (2020). Analisis Pasien Self-Diagnosis Berdasarkan Internet pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama. In Mutu Pelayanan Kesehatan.

Maskanah, I. (2022). Fenomena Self-Diagnosis di Era Pandemi COVID-19 dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental The Phenomenon of Self-Diagnosis in the Era of the COVID-19 Pandemic and Its Impact on Mental Health. 1(1), 1–10.

Utama, J., S., A. (2016). Psikologi dan Teknologi Informasi (Seri Sumbangan Pemikiran Psikologi Untuk Bangsa 2). Jakarta: HIMPSI. https://publikasi.himpsi.or.id/wp-content/uploads/fliphtml5/2/flipbook.html#p=477

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *