Biografi Wilhelm Wundt

Wilhelm Wundt. Sumber: Dok. Wikimedia Commons

Lahir dengan nama Wilhelm Maximilian Wundt pada tanggal 6 Agustus 1832 merupakan seorang dokter, psikolog, fisiolog, dan professor. Beliau disebut sebagai  penemu psikologi modern dan dianggap sebagai “Bapak Psikologi Eksperimental”. Pada tahun 1879, Wundt mendirikan laboratorium formal pertama secara resmi untuk riset psikologis di Universitas Leipzig dan membuat jurnal riset psikologis pertama pada tahun 1881. Tujuan pendirian laboratorium ini untuk menerapkan pemikiran-pemikirannya dalam mempelajari perbedaan dari pengalaman tentang kesadaran manusia yang mengarah pada beberapa tinjauan tentang biologi, psikodinamika, behavioral, humanistik, kognitif, lintas kultural atau kultur sosial. Dari sudut pandangnya tersebut Wilhelm Wundt ditetapkan sebagai tokoh psikolog pertama dan pendirian laboratorium tersebut menjadi awal penetapan psikologi sebagai disiplin ilmiah yang berpisah dari filsafat.

Wilhelm Wundt mempelopori strukturalisme sebagai dasar kajian psikologi. Menurut Wundt, psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kesadaran manusia dengan mengkaji proses kejiwaan dengan metode intropeksi yang berdasarkan pada filsafat. Wundt dan para strukturalis Jerman menghasilkan pendekataan untuk mengetahui kesadaran dan perilaku manusia dengan melalui fenomenologi yang mengutamakan pengalaman dan mekanisme yang mengutamakan percobaan.

Salah satu karya tulisnya yang penting dalam sejarah psikologi ialah “Principles of Physiological Psychology” yang dipublikasikan pada tahun 1874. Karyanya tersebut mencakup sistem dalam psikologi yang berupaya menyelidiki beberapa pengalaman langsung dari kesadaran seperti perasaan, emosi, gagasan, terutama dijelajahi melalui introspeksi. Dalam eksperimennya, Wundt memahami kecerdikan manusia dengan mengidentifikasi elemen pembentuk kesadaran manusia seperti halnya zat kimia yang bisa dibagi menjadi berbagai elemen. Pada akhirnya, Wilhelm Wundt meninggal di umur 88 tahun pada tanggal 31 Agustus 1920 di kota Jerman.

Referensi

https://en.wikipedia.org/wiki/Wilhelm_Wundt

https://p2k.unibabwi.ac.id/en4/2-2829-2718/Wundt_91981_stie-niba_p2k-unibabwi.html

http://webspace.ship.edu/cgboer/wundtjames.html

https://plato.stanford.edu/entries/wilhelm-wundt/

https://plato.stanford.edu/entries/wilhelm-wundt/#LifTim

Biografi Jean Piaget

Jean Piaget. Foto: Dok. Wikimedia Commons
Jean Piaget. Foto: Dok. Wikimedia Commons

Jean Piaget, salah satu pakar psikologi yang lahir tanggal 09 Agustus 1896 di Neuchatel. Piaget merupakan salah satu pakar psikologi paling berpengaruh sepanjang sejarah dan menjadi salah satu tokoh yang menjelaskan tentang teori perkembangan. Di dalam teorinya, Piaget menjelaskan bahwa perkembangan kognitif adalah tentang bagaimana anak mampu beradaptasi dan menginterpretasikan suatu objek maupun kejadian lain yang ada disekitarnya. Piaget membagi tahapan perkembangan kognitif ke dalam 4 tahap sebagai berikut :

● Tahap Sensorimotor (0-2 tahun) Pada tahap ini, bayi mulai belajar membangun suatu pemahaman mengenai dunia dengan cara mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman sensor (seperti melihat dan mendengar) melalui panca indera dengan tindakan fisik.

● Tahap Praoperasi (2-7 tahun) Di tahap ini, anak mulai menggunakan simbol-simbol, kata-kata atau gambar untuk melambangkan objek yang ada disekitarnya.

● Tahap Operasi Konkrit (7-11 tahun) Pada tahap ini anak mulai belajar mengembangkan operasi logis yang dicirikan dengan perkembangan dalam sistem pemikiran yang mulai didasari aturan-aturan yang lebih logis.

● Tahap Operasi Formal (> 11 tahun) Di tahap ini anak akan memperoleh kemampuan untuk bisa berpikir secara abstrak, menalar dengan logis, mampu menarik kesimpulan dari informasi yang diterima. Selain itu, tahapan ini akan terus berlanjut hingga dewasa dimana nantinya individu akan memahami hal-hal seperti cinta, bukti-bukti logis dan nilai atau value.

Di tahun 1918, Piaget juga menerbitkan novel intelektual yang berjudul “Recherché”. Piaget juga meraih gelar kehormatan pertama dari Universitas Harvard pada 1963 diikuti lebih dari empat puluh gelar kehormatan termasuk Erasmus Prize pada 1972. Piaget tetap berkarya setelah pensiun tahun 1971 dengan menulis buku tentang epistemologi konstruktivis dan beliau meninggal di tahun 1980.

Referensi:

Biografi Jean Piaget dan Perkembangan Kerangka Berpikir – JEJAK PENDIDIKAN

Biografi Singkat Jean Piaget – IndoPositive – Bahas Psikologi Sehari-Hari

Biografi Carl Gustav Jung

Carl Gustav Jung. Foto: Dok. Wikimedia Commons

Carl Gustav Jung lahir di Kesswill, Swiss, 26 Juli 1875 merupakan salah satu psikolog yang mencetuskan mengenai psikologi analitis. Jung terkenal karena teorinya tentang ketidaksadaran pada manusia, termasuk gagasan bahwa ada yang dinamakan ketidaksadaran kolektif yang dimiliki semua orang.

Dalam teori Carl Jung, ada tiga tingkatan kesadaran: pikiran sadar, ketidaksadaran pribadi , dan ketidaksadaran kolektif . Pikiran sadar mengacu pada segala peristiwa dan ingatan yang kita sadari. Lalu ketidaksadaran pribadi mengacu pada peristiwa dan pengalaman dari masa lalu kita sendiri yang tidak sepenuhnya dapat kita sadari. Sedangkan ketidaksadaran kolektif mengacu pada simbol serta pengetahuan yang mungkin tidak kita alami secara langsung, tetapi masih mempengaruhi kita. Ketidaksadaran kolektif ini terdiri dari arketipe, yang didefinisikan Jung sebagai suatu gambaran kuno yang berasal dari ketidaksadaran kolektif. Dengan kata lain, arketipe adalah konsep, simbol, dan citra penting dalam budaya manusia. Jung menggunakan istilah-istilah maskulinitas, feminitas, dan ibu sebagai contoh dari arketipe.

Pada tahun 1921, Jung mengeluarkan buku berjudul Psychological Types. Buku ini memperkenalkan dan menjelaskan beberapa tipe kepribadian yang berbeda, seperti introvert dan ekstrovert. Ekstrovert menurut Jung memiliki kecenderungan pribadi yang terbuka, memiliki jaringan sosial yang besar, bisa menikmati perhatian dari orang lain, dan senang menjadi bagian dari kelompok besar. Sedangkan Introvert juga memiliki teman dekat yang sangat mereka sayangi, tetapi mereka lebih cenderung membutuhkan banyak waktu sendiri, dan mungkin lebih lambat dalam menunjukkan diri mereka yang sebenarnya di sekitar orang baru. Carl Jung juga mempelopori salah satu jenis terapi yang disebut pula terapi analitis. Terapi ini bertujuan untuk bisa lebih memahami alam bawah sadar dan bagaimana hal tersebut dalam mempengaruhi perilaku pada klien. Pada terapi ini, terapis akan mencoba untuk memahami isi pikiran klien dan akan mencoba untuk mengatasi gejala atau perilaku yang mengganggu klien.

Referensi:

Biography of Carl Jung: Founder of Analytical Psychology (thoughtco.com)

Carl Gustav Jung – Biografi, Teori, Pandangan, dan Sejarah Hidup (gunabraham.com)

Carl Jung biografi bapak psikologi mendalam / Psikologi | Psikologi, filsafat dan pemikiran tentang kehidupan. (sainte-anastasie.org)

Muda Berprestasi

Medium Jiwa

(Inspiring Stories)

AA (nama samaran) ialah seorang atlet selam yang berprestasi berasal dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Peselam muda ini berkelahiran di Banjarnegara, 31 Desember 2002. AA tergabung dalam kontingen Indonesia di Vietnam dalam ajang olahraga Sea Games 2022. Gadis tangguh ini telah melewati banyak rintangan hingga pada titik ini. AA telah menekuni bidang olahraga renang sejak usianya masih 5 tahun. Hingga pencapaian terbesarnya saat ini ia berhasil meraih perak pada Sea Games 2022 di Vietnam.

Tentu saja peselam muda ini sudah banyak menoreh prestasi dalam bidangnya. Namun, seperti yang kita ketahui tentu saja hal itu tidak mudah. Dengan intensitas latihan yang tinggi sementara ia harus tetap menyeimbangkan dengan pendidikan akademiknya. Tekanan yang ia alami sangat berat. 

Iya stress rasanya, capek. Tekanan dari pelatih dituntut jadi juara.” ungkapnya dalam sesi wawancara. 

Sebagai seorang remaja tentu saja AA juga mengalami konflik-konflik sosial dengan teman sebayanya. 

Sedih banget, mau nyerah rasanya. Tekanan dari mana-mana. Kalau mau cerita ke temen takut ceritanya disebar kemana-mana.” jelasnya. 

Pada saat pelatnas gadis ini merasa sedih, ketika seharusnya ia mendapat dukungan dari teman-temannya justru malah terjadi konflik antara dirinya dengan temannya. Hal tersebut tentu saja mengganggu fokus dan konsentrasi pikirannya. 

AA juga bercerita bahwa ia pernah berkonsultasi dengan seorang psikolog dari Ikatan Psikologi Olahraga selama pelatnas. Dalam organisasi tersebut beranggotakan psikolog yang menangani masalah-masalah psikis pada atlet. Konsultasi tersebut dilaksanakan seminggu 2 kali, sekali dilaksanakan secara berkelompok dan sekali dilaksanakan secara individu. Peselam muda ini beranggapan bahwa hal tersebut dirasa penting dan seharusnya terus dilakukan secara rutin, tidak hanya selama pelatnas.

Selama proses konsultasi ia ditanya, dalam perhitungan skala, seberapa semangat yang ia miliki saat ini, kenapa alasannya, dan ia juga diminta untuk bercerita kondisi yang dialami sejak awal hingga saat ini. Hanya saja gadis ini merasa takut dan kurang nyaman saat berkonsultasi karena harus bercerita kepada orang yang baru ia temui. AA juga merasa khawatir bahwa ceritanya akan sampai ke orang lain selain pelatihnya. Selain itu durasi konsultasi yang singkat juga membuatnya kurang bisa menyampaikan banyak hal. Meski demikian, berkonsultasi dengan seorang ahli tetap dirasa membantu untuk mengurangi stressnya dan hipnoterapi membuatnya merasa lebih tenang.

Hipnoterapi merupakan tipe terapi yang menggunakan teknik hipnosis, yaitu tindakan memasuki alam bawah sadar seseorang untuk memberikan sugesti tertentu. Pada kasus depresi, hipnoterapi bertujuan untuk membuat seseorang fokus dan rileks, sehingga perasaan dan emosi negatif di masa lalu bisa dikendalikan.

AA sendiri lebih senang saat menjalani konsultasi secara kelompok. Karena dalam konsultasi kelompok lebih banyak game dan pelatihan. Gadis ini lebih merasa enjoy dan asyik saat berkonsultasi secara kelompok. Sehingga ini dapat mengurangi rasa jenuhnya. Selain itu konsultasi secara berkelompok ini juga bertujuan untuk meningkatkan solidaritas antaranggota kelompok atau tim. 

Dalam kesehariannya jika ia merasa stress dan tertekan dengan kondisinya remaja ini lebih memilih untuk tidur, berdzikir mendekatkan diri kepada Tuhan, atau pergi bertemu teman-temannya. Ia juga senang bepergian seorang diri ke tempat-tempat pusat perbelanjaan atau hanya sekedar menonton film di bioskop. 

Walaupun AA memiliki ketakutan akan terulangnya konflik-konflik sosial dengan teman dan keluarga saat dalam persiapan pertandingan yang sangat mengganggu fokus dan konsentrasinya tetapi persoalan tersebut tidak memadamkan api semangatnya. Pemuda yang tangguh ini merasa tidak menyangka bahwa dirinya mampu melewati titik terberat dalam hidupnya. Saat ini AA merasa bahagia karena telah menjadi seseorang yang lebih kuat dan merasa siap juga berani untuk menghadapi tantangan-tantangan yang menantinya di depan. Baginya dukungan dan doa dari keluarga dan teman-temannya merupakan hal yang sangat penting untuknya dapat berdiri kuat hingga saat ini.

*Narasumber AA memilih untuk tidak menyebutkan nama asli dalam artikel

Capcipcup Pilihan Anak

Medium Jiwa

“Pa, Ma, aku mau lanjut ke Psikologi aja, ya?”

“Psikologi? Kenapa ga yang lain, sih?”

Tahukah teman-teman? Setiap tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional di Indonesia. Penetapan Hari Anak Nasional ini dinilai penting, mengingat anak-anak merupakan penerus generasi dan bagian dari aset kemajuan bangsa. Adanya hari perayaan ini tentu diharapkan semua lapisan masyarakat, terutama para orang tua untuk lebih memperhatikan anak-anak. Menurut Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Indonesia (KPPAI), peringatan Hari Anak Nasional dimaknai sebagai bentuk kepedulian seluruh bangsa terhadap perlindungan anak Indonesia agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. 

Keluarga, khususnya keluarga inti yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dan anak itu sendiri merupakan suatu sistem atau organisasi sosial alamiah terkecil yang memungkinkan terjadinya proses interaksi sosial dan tempat bagi anak menjalani proses tumbuh dan berkembang. Hampir pada umumnya anak-anak tumbuh dan berkembang dengan dibimbing oleh keluarga dan orang tua mereka. Orang tua berperan penting membantu anak mengembangkan potensi dan mencapai tugas perkembangan mereka sehingga anak tumbuh dengan memiliki rasa percaya diri (self confidence) dan keyakinan pada kemampuannya (self efficacy). Terlebih ketika anak beranjak usia remaja, seperti menurut Arnett (2009) bahwa masa tersebut merupakan masa dimana individu mempersiapkan diri untuk mengambil peran dan tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, serta menjadikan dirinya sebagai pusat peran dalam mengambil keputusan.

Seringkali kita temui dalam keluarga, anak lebih diposisikan sebagai objek daripada subjek. Objek yang dimaksud dalam konteks ini adalah peran anak dalam pemilihan keputusan, anak tidak dilibatkan dalam diskusi karena dianggap belum cukup mampu untuk menentukan suatu pilihan. Namun, apakah anak hanya berperan untuk mendengarkan dan menuruti segala keinginan orang tua saja?

Dapat dijumpai kasus di lingkungan sekitar kita, di mana orang tua lebih memaksakan kehendaknya tanpa mempertimbangkan kembali kondisi anak ataupun tanpa melakukan diskusi terlebih dahulu dengan anak. Anak cenderung kurang atau bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan mengambil keputusannya sendiri, mereka dituntut untuk hanya mengikuti permintaan orang tua.

Salah satu persoalan yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari adalah pemilihan jurusan studi di jenjang perguruan tinggi. Ketika anak memiliki keinginan untuk memilih suatu jurusan yang sangat ia minati tetapi di lain sisi kedua orang tua tidak mendukung pilihannya tersebut sehingga terjadi perdebatan yang menyebabkan motivasi anak menurun dan mendapat tekanan stress. Pada akhirnya menyebabkan anak tidak menikmati studi yang dijalani dan mendapatkan hasil yang kurang memuaskan, apalagi ditambah ekspektasi untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Perlakuan tersebut merupakan bentuk ketidakadilan pada anak dan termasuk dalam pola push parenting, yaitu pola pengasuhan yang otoriter di mana orang tua hanya mendukung keinginan anak yang sesuai dengan keinginan mereka sendiri.

Padahal setiap anak memiliki bakat, kemampuan, dan mindset tersendiri yang unik dan patut untuk dihargai selayaknya manusia pada umumnya. Jika anak tidak diberikan kesempatan untuk berkomunikasi, berdiskusi, dan memilih keputusan untuk dirinya sendiri dapat menyebabkan beberapa dampak, seperti berikut:

  1. Anak menjadi mudah merasa takut, panik, dan putus asa akan ekspektasi yang terbentuk karena adanya tuntutan dari orang tua.
  2.  Rasa tertekan atau stress secara berlebihan, serta rendahnya self esteem.
  3. Tuntutan yang dipaksa secara terus menerus akan membuat anak sering membangkang dan sulit diatur sehingga mengganggu fase perkembangan.

Sebagai orang tua maupun orang dewasa yang berada di sekitar anak-anak, marilah kita hargai dan dengarkan keinginan mereka. Bimbing anak selama pengambilan keputusan yang diinginkan, bukan memaksakannya. Berikan mereka kesempatan untuk berpendapat, berekspresi dengan bebas, dan mengambil keputusan sebagai bentuk dukungan perkembangan hidup anak-anak sehingga mereka sadar akan tanggung jawab dan konsekuensi yang perlu dihadapi nantinya. 

Harapan untuk Hari Anak Nasional 2022, anak-anak lebih diberi kesempatan dan dibimbing sebaik mungkin dalam mengambil keputusan. Ajak anak berkomunikasi– berdiskusi, serta pahami keinginan mereka dengan menjadi pendengar yang baik agar tercipta lingkup psikologis yang positif bagi anak sehingga mengembangkan generasi penerus bangsa yang matang dan sehat secara psikologis. 

Selamat Hari Anak Nasional!

Referensi:

MIFTAHUSYAIAN, M. (2007). KEBEBASAN ANAK BEREKSPRESI DALAM KELUARGA PRESPEKTIF PENDIDIKAN DAN SOSIAL. EGALITA.

Rini, Y. S. (2014). Komunikasi Orangtua-Anak dalam Pengambilan Keputusan Pendidikan. Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi, 112-122.

Raditya, I. N. (2021, Juli 21). Hari Anak Nasional 2021: Ketahui Sejarah, Logo & Tema Peringatannya. Diakses melalui tirto.id: https://tirto.id/ghUf

Krisis pendidikan bagi anak indonesia, separah apakah? (2021, Juli 22). Retrieved from BEM FIB UNS: https://bemfib.uns.ac.id/index.php/2021/07/22/hari-anak-nasional/

Raihanal Miski, M. M. (2017). PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA REMAJA YANG MENGALAMI PENGASUHAN OTORITER. JURNAL ECOPSY, 4(3), 157-162.

Satata, D. B. (2021, Juli). Self-Disclosure Sifat Independen Anak Tunggal pada Keluarga Broken Home. JURNAL PSIKOLOGI PERSEPTUAL, 6(1), 53-65

PUSPITASARI, S. W. (2012). ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN FOKUS UTAMA KELUARGA MENDERITA DIABETES MELLITUS PADA KELUARGA TN.U KHUSUSNYA TN. U DI DESA KEDUNGWULUH LOR RT 02/RW 04 KECAMATAN PATIKRAJA. Purwokerto: Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

https://ditpsd.kemdikbud.go.id/artikel/detail/selamat-hari-anak-nasional

https://motherandbeyond.id/read/19281/bahaya-push-parenting-memaksakan-kehendak-pada-anak

https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/7614/05.1%20bab%201.pdf?sequence=5&isAllowed=y

https://health.detik.com/anak-dan-remaja/d-2417470/psikolog-anak-itu-bukan-cetakan-orang-tua

Kenapa Harus ke Psikolog? Kan Ada Internet

Medium Jiwa

Perkembangan teknologi yang semakin hari semakin berkembang telah mengubah kehidupan manusia. Teknologi informasi dan komunikasi menjadi satu contoh perkembangan teknologi yang paling pesat. Perkembangan teknologi informasi ternyata memiliki berbagai dampak, salah satunya adalah terbukanya kesempatan luas bagi semua orang untuk mengakses informasi apa saja yang tersedia di internet maupun sosial media. Tetapi kualitas dari informasi-informasi tersebut masih patut dipertanyakan, bisa saja informasi yang kita dapatkan justru menyesatkan, bukan?

Dengan adanya perkembangan teknologi ini memudahkan pencarian informasi terutama mengenai dunia kesehatan. Hal tersebut ditandai dengan munculnya berbagai laman yang menawarkan pelayanan kesehatan (Ryan & Wilson, 2008). Rasa ingin tahu manusia yang tinggi membuat kita ingin segera mencari jawaban yang kita perlukan, terlebih jika mempertanyakan kondisi diri kita. Pasien yang mengalami sejumlah keluhan dapat langsung menanyakan atau membaca informasi yang berkaitan dengan keluhannya di internet. Sehingga dengan cara tersebut pasien bisa mendiagnosis dirinya sendiri setelah melihat informasi (Tang & Ng, 2006) atau biasa kita kenal dengan istilah self diagnose.

Self diagnose atau mendiagnosis diri sendiri merupakan kegiatan memutuskan penyakit yang dirasakan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki atau setelah membaca informasi yang berkaitan dengan keluhan tersebut. Menurut White dan Horvitz (2009), self diagnose adalah upaya memutuskan bahwa diri sedang mengidap suatu penyakit berdasarkan informasi yang diketahui. Orang yang terbiasa mendiagnosis diri sendiri secara berlebihan disebut sebagai cyberchondria. Namun, seringkali informasi yang tersedia di halaman tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan secara medis atau tidak evidence based medicine (EBM). Padahal, seperti yang teman-teman ketahui, seharusnya seseorang baru bisa dinyatakan memiliki gangguan psikologis setelah mendapatkan penanganan khusus dan pernyataan langsung dari ahli profesional, yaitu psikolog atau psikiater. Di era modern ini, penggunaan internet dan sosial media menjadi alternatif bagi para individu tak hanya untuk berekspresi tetapi juga sebagai sumber informasi. Tidak sedikit dari masyarakat yang mencari informasi terkait gejala-gejala yang dirasakan hingga melakukan diagnosis mandiri secara mentah-mentah dan banyak pula dari mereka yang meyakini bahwa mereka mengalami suatu gangguan berdasarkan hasil pencarian yang didapatkan. Terdapat beberapa “tes” di berbagai website berbentuk pertanyaan ataupun pernyataan yang mengklaim mampu mengetahui kondisi mental seseorang.

Apakah kalian tahu? Self diagnose termasuk perilaku yang berbahaya karena selain bisa berdampak kepanikan, kegiatan tersebut juga dapat menyebabkan seseorang mengonsumsi obat yang tidak sesuai dan seseorang bisa saja menyebarkan info yang salah kepada orang lain sehingga secara beruntutan menyebabkan kekacauan lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Imas Maskanah (2022), diketahui bahwa tiga dari empat responden penelitian menyatakan bahwa self diagnose memberikan dampak yang buruk terhadap kesehatan mental seperti kecemasan berlebih, takut terhadap hal yang belum tentu terjadi, tertekan dan stres. Hal tersebut mengganggu responden dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Dilansir dari detik.com, Psikolog Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Retha Arjadi mengatakan bahwa self diagnose tentu akan membawa dampak yang berbahaya bagi diri sendiri. “Jika seseorang meyakini bahwa dia depresi, dapat merusak hubungan sama dirinya sendiri, serta orang lain, jadi sangat tidak disarankan untuk menetapkan penyakit tanpa konsultasi, terlebih penyakit yang cenderung menjurus kesehatan mental,” ungkapnya. Kemudian, dikutip dari artikel Gramedia, psikolog dari Universitas Indonesia mengatakan bahwa mendiagnosa diri sendiri mengidap suatu penyakit atau gangguan tertentu akan menyebabkan berbagai kekhawatiran yang tidak perlu dan jika kekhawatiran tersebut memburuk maka akan mengembangkan gangguan kecemasan.

     Oleh karena itu, meskipun saat ini teknologi berkembang dengan sangat pesat namun tidak selamanya berdampak positif. Salah satu dampaknya, yaitu self diagnose atau kegiatan memutuskan penyakit yang dirasakan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki atau setelah membaca informasi yang berkaitan dengan keluhan yang dialami. Terlebih jika informasi yang didapat berasal dari internet yang mana hal ini dapat berdampak buruk, mulai dari panik atau merasa cemas, stress, hingga mengonsumsi obat-obatan yang tidak sesuai. Perlu diingat bahwa tidak semua informasi diinternet akurat karena bisa jadi ada faktor-faktor lain yang hanya dapat dipahami oleh ahlinya terkait gejala gangguan mental yang dirasakan. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan maka sebaiknya mendiagnosis diri sendiri perlu kita hindari dan cegah. Dengan demikian, alangkah baiknya konsultasikan langsung terhadap ahlinya dalam hal ini, yaitu seorang psikolog.

Referensi:

Akbar, M. F. (2020). Analisis Pasien Self-Diagnosis Berdasarkan Internet pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama. In Mutu Pelayanan Kesehatan.

Maskanah, I. (2022). Fenomena Self-Diagnosis di Era Pandemi COVID-19 dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental The Phenomenon of Self-Diagnosis in the Era of the COVID-19 Pandemic and Its Impact on Mental Health. 1(1), 1–10.

Utama, J., S., A. (2016). Psikologi dan Teknologi Informasi (Seri Sumbangan Pemikiran Psikologi Untuk Bangsa 2). Jakarta: HIMPSI. https://publikasi.himpsi.or.id/wp-content/uploads/fliphtml5/2/flipbook.html#p=477

Wabi-sabi, Seni dari Ketidaksempurnaan

Sudut pandang terhadap persepsi kita tentang kata kesempurnaan

Brilliant Baihaqqi

Apa itu kesempurnaan?

Mencari kesempurnaan merupakan sebuah tujuan yang diincar oleh banyak manusia untuk dijadikan sebuah “state” atau bentuk paling ideal dari suatu objek. Namun, apa yang bisa disebut sebagai sesuatu yang sempurna? Dalam pekerjaan kita dituntut untuk tidak membuat kesalahan agar hasilnya bisa sempurna. Ketika ada seseorang yang memiliki wajah nan cantik dan badan yang ideal maka ia bisa disebut sempurna fisiknya. Jika kita memiliki pasangan yang memiliki banyak kesamaan, bagus secara fisik dan rohani, serta karirnya berjalan baik, maka pasangan tersebut disebut sebagai pasangan yang sempurna. Dari contoh-contoh yang telah disebutkan, sesuatu yang sempurna adalah suatu objek ataupun hal yang tidak memiliki kesalahan, terjauhi dari yang tercela dan memiliki kualitas yang sangat baik.     

Wabi-sabi

Sebuah filosofi dari zaman Jepang Kuno berjudul wabi-sabi memiliki pemikiran yang lumayan berbeda dari pendefinisian kesempurnaan pada umumnya. “The art of finding perfection in imperfections”, kata mereka. Filosofi ini dapat merubah cara berpikir manusia dalam berpersepsi melihat sesuatu yang “tidak sempurna” ataupun rusak. Dalam wabi-sabi, objek tidak hanya dilihat dari kesempurnaan hasil akhirnya, namun esensi estetika yang berada dalam sejarah pembentukan hasil akhir objek tersebut. Secara langsung, wabi (侘び) memiliki makna kesunyian bersama alam, terisolasi dari keramaian. Lalu sabi (寂び) memiliki arti pengaratan sesuatu dengan cara yang elegan. Jika digabung, wabi-sabi berarti pengapresiasian sesuatu yang telah berkarat (menua).  

Raw denim adalah tren fashion dimana denim akan lebih bagus ketika sudah digunakan berulang-ulang dan tidak dicuci untuk mengeluarkan cetakan warna unik sesuai kegunaan denim tersebut.

Lumut pada batu, pengaratan pada pedang, pot yang pecah, dan benda-benda lain yang produk akhirnya memperlihatkan sebuah cerita proses dalam pembentukannya. Wabi-sabi mengajarkan bahwa “authenticity” merupakan sesuatu yang mahal. Pengalaman yang dilalui oleh suatu benda bukanlah sesuatu yang murah melainkan tidak bisa tergantikan, latar belakang objek itu lah yang membuat tampak ketidaksempurnaan menjadi sempurna, menambahkan nilai dari objek tersebut. Layaknya batu yang berlumut, sepatu favorit atau celana jeans yang sering kita gunakan hingga kotor, bernoda, robek, atau ciri khas lain, akan bernilai lebih. Mungkin bukan nilai harga jual, akan tetapi nilai apresiasi kita terhadap barang tersebut karena memiliki cerita unik tersendiri.

Seniman-seniman Jepang sejak abad ke-15 menumpahkan filosofi ini ke dalam karya-karya mereka. Karya seni visual yang berasal dari Jepang memiliki ciri khas yang bersih, tidak terlihat tajam namun pesan yang bisa tersampaikan. Sama halnya ketika seniman menggunakan prinsip wabi-sabi dalam karya mereka, walau terlihat cacat, pengamat dapat mengabaikan “kerusakan” tersebut dan merubahnya menjadi karakteristik spesial dalam produknya.

Lalu, dalam seni wabi-sabi, ada sebuah teknik yang dilakukan oleh seniman Jepang untuk menutupi ketidaksempurnaan suatu objek, misal dalam contoh ini adalah sebuah cangkir yang telah retak, ditambal dengan emas. Mengapa perlu ditambal? Bukankah wabi-sabi mementingkan esensinya dan bukan hasil akhir? Metode ini disebut kintsugi, yang menambal sebuah pecahan kesenian pecah belah menggunakan bubuk atau cairan emas. Apa yang berusaha dilakukan oleh seniman bukanlah untuk menutupi kesalahan, melainkan sebuah metafora untuk membuktikan bahwa segala sesuatu yang rusak bisa diperbaiki dan berubah menjadi pribadinya yang lebih baik dari sebelumnya.

Tidak hanya itu, kintsugi juga memiliki tujuan untuk memberikan kesempatan kedua bagi objek yang telah rusak. To reuse (menggunakannya kembali) dan to repair (memperbaikinya) untuk menghindarkan waste (limbah). Filosofi ini disebut dengan mottainai yang sangat berguna dalam zaman ini untuk pengelolaan bumi yang perlu menghindar dari tindakan mubazir.

Pengaplikasian wabi-sabi dalam berpikir

Konsep dari wabi-sabi bisa ditemukan dimana saja. Interpretasinya ke dalam kehidupan manusia secara sederhana adalah untuk mengapresiasi segala sesuatu, dengan bentuk dan keadaan apa pun. Ketika kita menghargai dapat menghargai lingkungan kita, maka akan timbul perasaan senang, walaupun hanya sedikit. Namun perasaan senang ini akan bersifat konsisten karena kita menyadarkan kesenangan kemanapun kita pergi.

Merubah pikiran dari melakukan (doing) menjadi penerimaan dan menjalankan (being). Merubah pikiran dari menyempurnakan (perfecting) menjadi (appreciating). Memahami konsep ini mudah namun pengaplikasiannya membutuhkan pikiran yang tenang dan tidak berkabut akan pemikiran negatif. Oleh karena itu wabi-sabi membutuhkan kesunyian dalam pengeksekusiannya, secara internal dan eksternal.

Orang-orang Jepang memegang prinsip wabi-sabi hingga sekarang. Dalam transportasi publik yang mendesak ataupun zebra cross Shibuya yang begitu ramai, mereka berfokus pada mereka sendiri, fokus dan menghargai waktunya untuk menikmati lingkungan yang mungkin ramai namun sunyi sekaligus. Individualisme antarmanusia yang tinggi membuat wabi-sabi lebih mudah dilakukan.

Pesan akhir

Makna wabi-sabi tersendiri pun bisa berbeda-beda dalam penerimaannya oleh setiap individu sebab memaknai sesuatu juga merupakan bagian dari wabi-sabi.  Apa yang diajarkan wabi-sabi membawa kita untuk sadar akan keindahan dunia. Orang-orang yang menganut wabi-sabi membawa aura positif kemanapun mereka pergi karena mereka memiliki mekanisme peregulasiaan diri yang berkelanjutan. Sebuah pemikiran yang membuat manusia rendah hati karena bisa menerima kekurangan sebagai suatu kelebihan.

Video Call Sebagai Upaya Memperkuat Hubungan Pertemanan dan Meningkatkan Self Control

Latifa Setya Priani

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, juga tidak dapat menyelesaikan permasalahan atau bahkan mengendalikan dirinya dalam menghadapi masalah yang ia alami tanpa bantuan orang lain. Sehingga dalam menjalani hidupnya sangat dibutuhkan komunikasi interpersonal, yaitu komunikasi yang dilakukan dengan orang lain, salah satunya yaitu dengan teman terdekat. Tak jarang ketika setiap individu memiliki masalah, ia akan mencurahkannya pada sosok teman baik atau teman terdekatnya. Meskipun hanya sekedar untuk mendengarkan keluh kesahnya sehingga membuat ia lebih tenang juga diharapkan teman baiknya mampu memberikan solusi atau memecahkan masalah yang ia alami. 

Di era digitalisasi seperti saat ini mayoritas individu memilih berkomunikasi atau menjalani hubungan pertemanan melalui virtual. Terlebih lagi akibat terdesaknya situasi pandemi covid-19 yang mau tidak mau interaksi dilakukan secara tidak langsung. Namun sebagian besar memilih untuk sekedar mengirim pesan. Perlu diketahui bahwa berkomunikasi dengan chat atau kirim pesan terdapat banyak hambatan diantaranya, pengirim pesan terkadang mengirimkan pesannya melalui media sosial disertai emosi, sehingga tidak jarang penerima pesan menangkap maksud yang berbeda dengan pengirim pesan tersebut. Belum lagi jika pengirim pesan menggunakan kata-kata penyandian atau simbolik yang maknanya kurang jelas, sehingga memiliki arti yang multi tafsir. Hambatan selanjutnya yaitu ketika penerima pesan tidak fokus dalam memahami pesan yang diterima, sehingga maksud yang didapat tidak menyeluruh, serta balasan yang diberikan oleh penerima pesan terkadang tidak menggambarkan situasi sesungguhnya.

Berdasarkan penelitian tersebut, terbukti bahwa hubungan pertemanan yang hanya melalui chat atau mengirim pesan dapat dikatakan kurang efektif, lantaran maksud dan tujuan kedua belah pihak, antara komunikan dan komunikator terkadang tidak tersampaikan dengan baik. Sehingga membuat hubungan keduanya semakin renggang dan keinginan individu untuk lebih tenang ketika bercerita dengan teman baiknya malah menjadikan ia semakin kesulitan untuk mengendalikan diri (self control), semakin tergesa-gesa dalam menentukan keputusan. Jika dibiarkan akan terjadi pelampiasan  berupa perilaku amoral yang bahkan secara tidak sadar dilakukan. Oleh karena itu diperlukannya penguatan hubungan dengan teman terdekat untuk meningkatkan self control tersebut, salah satunya yaitu dengan cara video call. Hampir semua platform media sosial menyediakan fitur tersebut. Menurut hasil wawancara dalam penelitian terdahulu mengatakan bahwa, menggunakan fitur video call untuk berkomunikasi merupakan pilihan yang terbaik dibandingkan dengan fitur chat, dikarenakan melalui video call interaksi akan lebih natural, dari bagaimana cara pengungkapan perasaan dan emosinya. Tentunya kedua belah pihak tidak mampu melakukan penipuan atau memanipulasi keadaan yang dialaminya. Pesan yang disampaikan juga dapat diterima dengan baik serta tidak ada keraguan antara kedua belah pihak. Dengan begitu hubungan pertemanan lebih baik dan teman terdekat akan lebih mudah dalam membantu kita untuk mengendalikan diri dengan memberikan feedback berupa saran ataupun solusi supaya kita lebih berpikir matang sebelum melakukan suatu tindakan. 

Dapat ditarik kesimpulan bahwasanya, manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan orang lain salah satunya yaitu teman terdekat untuk membantunya dalam mengendalikan diri ketika menghadapi suatu masalah yang ia alami. Sehingga dibutuhkannya komunikasi antara kedua belah pihak untuk berbagi cerita, memahami perasan dan emosi satu sama lain. Dalam situasi yang terbatas untuk melakukan komunikasi secara langsung, alternatif terbaik yang dapat diambil yaitu menggunakan video call. Interaksi yang dilakukan melalui video call dinilai paling efektif dikarenakan pengungkapan pesan dan ekspresi dapat tersampaikan apa adanya, tanpa dibuat-buat dan tentunya tidak menimbulkan keraguan satu sama lain. Sehingga lebih memperkuat hubungan pertemanan dan juga mampu meningkatkan self control antara kedua belah pihak. 

Referensi:

Lambuan, H., Mas’amah, & Letuna, M. A. . (2019). Penggunaan Whatsapp Sebagai Media Komunikasi Pacaran Jarak Jauh (Studi Fenomologi Terhadap Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UNDANA). Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Illmu Komunikasi, 8(2), 1362–1391.

Syaipudin, L. (2020). Efektifitas Media Komunikasi di Tengah Pandemi: Respon Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Tulungagung. Kalijaga Journal of Communication, 1(2), 165–178.


REACH MINDFULNESS THROUGH ART THERAPY LET’S FIND OUT!

Waode Zalfa

Pernahkah kamu mendengar istilah mindfulness? Mungkin untuk kajian dalam Ilmu Psikologi, mindfulness cukup sering ditemukan terutama pada ranah ilmu Psikologi Positif. Jadi, Mindfulness adalah keadaan dimana seseorang dapat memfokuskan dan memperhatikan diri, pikiran, emosi dan dunia disekitarnya pada apapun yang sedang dilakukan saat itu. Contoh dari mindfulness ini adalah ketika kita sedang quality time dengan keluarga, sahabat, maupun kekasih, kita benar-benar menikmati obrolan dan interaksi yang ada, bukan malah sibuk dengan gadget. Praktik dari mindfulness juga bisa dilihat dari aktivitas yoga atau meditasi.

Dilansir dari verywellmind.com Di tahun 2009, Laury Rappaport mengenalkan satu konsep baru dalam praktik mindfulness dalam bukunya yang berjudul “Mindfulness and Arts Therapies”, konsep praktik baru tersebut dinamakan The Mindfulness-based art therapy (MBAT). MBAT ini merupakan suatu praktik untuk mencapai mindfulness dengan menggunakan struktur kerja dari terapi seni.

Jadi, dapat dikatakan bahwa MBAT ini akan membantu individu untuk bisa merasakan serta memfokuskan emosi dan juga pikiran mereka melalui aktivitas seni sederhana, seperti menggambar, melukis, membuat lagu hingga memahat atau membuat kreasi dari tanah liat. Sehingga mereka dapat menuangkan banyak hal di dalamnya.

PENGAPLIKASIAN DALAM KEHIDUPAN

Pada salah satu penelitian, praktik MBAT ini pernah diberikan pada pasien penderita kanker payudara dengan melalui proses seperti, menggambarkan dirinya sendiri lalu mewarnai gambar tersebut, melakukan yoga, dan lain sebagainya. Selain itu, praktik ini juga bisa lakukan dengan aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan kita, seperti membuat atau mendengarkan lagu, bermain musik, memahat hingga membuat karya dari tanah liat.

MANFAAT MINDFULNESS-BASED ART THERAPY

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Pamela Newland dan Ann Bettencourt, setelah peserta melakukan praktik MBAT, mereka melaporkan bahwa ada peningkatan yang signifikan pada kondisi psikologis dan fisik mereka. Maka, dapat dikatakan manfaat dari melakukan Mindfulness-based art therapy ini antara lain, dapat mengurangi gejala kecemasan, depresi, dan kelelahan, selanjutnya meningkatkan fungsi fisik, terakhir adalah meningkatkan kualitas hidup

REFERENSI

  • Book Positive Psychology Third Edition, Shane J. Lopez, Jennifer Teramoto, C.R Snyder
  • Newland, P., & Bettencourt, B. A. (2020). Effectiveness of Mindfulness-Based Art
  • Therapy for Symptoms of Anxiety, Depression, and Fatigue: A Systematic Review and Meta-Analysis. Complementary Therapies in Clinical Practice, 101246.
  • Jalambadani, Z., & Borji, A. (2019). Effectiveness of mindfulness-based art therapy on healthy quality of life in women with breast cancer. Asia-Pacific Journal of Oncology Nursing, 6(2), 193.
  • https://www.verywellmind.com/mindfulness-based-art-therapy-4588189
  • https://www.mentalhealth.org.uk/blog/how-arts-can-help-improve-your-mental-health

Biografi Ivan Pavlov

Ivan Pavlov. Foto: Dok. wikimedia commons

Ivan Petrovich Pavlov lahir di Rjasan pada tanggal 14 September 1849 dan meninggal di Leningrad pada tanggal 27 Februari 1936. Dasar pendidikan Pavlov memang ilmu Faal. Pada tahun 1883 ia mendapat gelar Ph. D di Universitas St. Petersburg dan menjadi profesor di tahun 1890 dalam farmakologi di Akademi Kedokteran Militer di St. Petersburg dan Direktur Departemen Ilmu Faal di Institute of Experimental Medicine di St. Petersburg. Ia juga pernah mendapat Hadiah Nobel untuk penelitiannya tentang pencernaan pada 1904.

Meskipun bergerak di ilmu Faal, pranan Pavlov dalam psikologi sangat penting, karena studinya mengenai refleks-refleks akan menjadi dasar bagi perkembangan aliran psikologi behaviorisme. Pandangannya yang paling penting adalah bahwa aktivitas psikis sebenarnya tidak lain daripada rangkaian refleks-refleks belaka. Karena itu, untuk mempelajari aktivitas psikis (psikologi) kita cukup mempelajari refleks-refleks saja.

Penemuan Pavlov yang sangat menentukan dalam sejarah psikologi adalah hasil penyelidikannya tentang refleks berkondisi (conditioned reflex). Dengan penemuannya ini Pavlov meletakkan dasar-dasar behaviorisme, sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi penelitian-penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori tentang belajar. Bahkan American Psychological Association (A.P.A) mengakui bahwa Pavlov merupakan salah satu orang yang besar pengaruhnya dalam psikologi modern.

Pavlov menggunakan seekor anjing sebagai binatang percobaan. Dimana reaksi atas munculnya makanan, anjing itu mengeluarkan air liur yang dapat terlihat dengan jelas pada alat pengukur. Makanan yang keluar disebut rangsangan tak berkondisi (unconditioned stimulus) dan air liur yang keluar setelah anjing melihat makanan disebut refleks tak berkondisi (unconditioned reflex).

Kemudian percobaan berikutnya Pavlov membunyikan bel setiap kali ia hendak mengeluarkan makanan. Dengan demikian anjing akan mendengar bel dahulu sebelum melihat makanan muncul di depannya. Percobaan ini dilakukan berkali-kali dan selama itu keluarnya air liur diamati terus. Mulanya air liur hanya keluar setelah anjing melihat makanan (refleks tak berkondisi), lama lama air liur keluar setelah anjing mendengar bel (refleks berkondisi), bunyi bel jadinya adalah rangsangan berkondisi. Jika diteruskan, keluarnya air liur setelah mendengar bel akan tetap terjadi walaupun tidak ada lagi makanan yang mengikuti bel itu.

Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah bahwa tingkah laku sebenarnya tidak lain daripada rangkaian refleks berkondisi, yaitu refleks-refleks yang terjadi setelah adanya proses kondisioning (conditioning process) dimana refleks-refleks yang tadinya dihubungkan dengan rangsang-rangsang tak berkondisi lama-kelamaan dihubungan dengan rangsang berkondisi. Melalui eksperimen tersebut, Pavlov menyimpulkan bahwa perilaku muncul dan terbentuk melalui mekanisme stimulus – respon. Mekanisme ini dikenal juga sebagai psikologi S – R.

Referensi:

Irwanto,. Gunawan, Felicia Y. Sejarah Psikologi. 2018. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Sarwono, Sarlito W. Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi. 2000. Jakarta: Bulan Bintang

Biografi Kurt Lewin

pinterest.com

Lewin dilahirkan di Mogilno, Jerman pada tanggal 9 September 1890 dan meninggal pada tanggal 12 Februari 1947 di Newtonville, Massacussets, Amerika Serikat. Lewin termasuk orang yang harus melarikan diri dari Jerman ke Amerika karena ancaman Nazi. Sebelum berimigrasi ke Amerika, ia pernah bekerja sebagai militer dan mengajar di Universitas Berlin antara tahun 1921-1933. Setelah berada di Amerika Serikat ia bekerja di Lowa State University dan Massachussets Institute of Technology.

Lewin memiliki beberapa teori diantaranya ada teori lapangan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah perkawinan, rekonstruksi manusia korban perang, dan menerangkan tingkah laku kelompok. Teori lapangan ini memiliki paham bahwa tingkah laku seseorang adalah selalu memiliki tujuan tertentu dan tujuan itu adalah untuk mencari keseimbangan.

Adapun teorinya yang bersifat praktis adalah teori tentang konflik. Lewin membagi konflik menjadi 3 jenis :

  1. Konflik mendekat-mendekat. Konflik ini terjadi jika seseorang menghadapi dua objek yang sama sama bernilai positif. Orang itu akan mengalami konflik jika mendekati salah satu objek, akibatnya ia harus melepaskan salah satu yang lain
  2. Konflik menjauh-menjauh. Konflik ini terjadi jika seseorang berhadapan dengan dua objek yang sama sama bernilai negative tetapi ia tidak bisa menghindari kedua objek itu sekaligus. Jika ia menghindari objek pertama maka ia harus mendekati objek kedua yang juga tidak disukainya demikian pula sebaliknya
  3. Konflik mendekat-menjauh. Dalam konflik ini hanya terdapat satu objek yang bernilai positif dan negative sekaligus. Sehingga jawabannya adalah apakah ia akan menjauh atau mendekat.

Disamping teori-teorinya yang murni, Lewin terkenal pula dengan karya-karyanya dengan pengalaman teori-teori itu dalam berbagai bidang. Kurt Lewin memang terkenal sebagai orang yang pandia menggabungkan teori dengan praktik.

Referensi:

Sarwono, Sarlito W. 2000. Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan Tokoh-Tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang

Irwanto,. Gunawan, Felicia Y. 2018. Sejarah Psikologi Perkembangan Perspektif Teoretis. Jakarta: Gramedia

Biografi Alfred Binet

Sumber: google.com

Alfred Binet adalah seorang psikolog, pedagog, dan ahli grafologi Prancis, yang juga dikenal karena kontribusinya pada bidang psikologi eksperimental, psikometri diferensial, dan atas kontribusinya yang cukup besar pada pengembangan pendidikan. Ia berasal dari kota Nice, Prancis dan lahir pada 8 Juli 1857. Binet menjadi pendiri dari psikologi eksperimental di Prancis serta pendiri dari Societe Libre pour I’Etude Psychologique de I’Enfant, dan berubah nama menjadi Societe Alfred Binet setelah ia meninggal. Di tahun 1895, Binet menjadi direktur Laboratorium Psikologi Fisiologis di Universitas Sorbonne, Paris. Kontribusi Binet dalam bidang pengembangan pendidikan membuatnya dianggap sebagai bapak tes kecerdasan.

Pada tahun 1905 dan 1911 Binet danThéodore Simon mencoba mengembangkan skala yang dapat digunakan untuk pengukuran kecerdasan anak. Binet juga menerbitkan beberapa karya tentang sugesti di tahun 1900 dan histeria di tahun 1910. Test yang dikembangkan oleh Binet merupakan test intelegensi yang pertama, meskipun kemudian konsep mengenai usia mental mengalami revisi sebanyak dua kali sebelum dijadikan dasar dalam test IQ.

Pada tahun 1914, tiga tahun setelah Binet wafat, seorang psikolog Jerman, William Stern, mengusulkan bahwa dengan membagi usia mental anak dengan usia kronological (Chronological Age atau CA), maka akan lebih memudahkan untuk memahami apa yang dimaksud “Intelligence Quotient” atau IQ Rumus ini kemudian direvisi oleh Lewis Terman, dari Stanford University, yang mengembangkan test untuk orang-orang Amerika. Perhitungan statistik baru inilah yang kemudian menjadi definisi atau rumus untuk menentukan Intelligensi seseorang: IQ=MA/CA*100. Test IQ inilah yang dikemudian hari dinamai Stanford-Binet Intelligence Test yang masih sangat populer dan masih banyak digunakan  sampai dengan hari ini.

Referensi:

https://id.thpanorama.com/articles/curiosidades/alfred-binet-biografa-y-obra-del-padre-del-test-de-inteligencia.html