DAFTAR RELAWAN ISTIMEWA PERIODE 2017-2018

Septiana Ayu Paramita (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Meilince Ramaulia (Universitas Mercu Buana Yogyakarta)

Nisa Miftahul Jannah (Universitas Islam Indonesia)

Inggrid Puspitasari (Universitas Teknologi Yogyakarta)

Afrida Mulyaningrum (Universitas Islam Indonesia)

Rahmadi (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Selamat kepada nama-nama terpilih! Semoga dapat berkontribusi sesuai apa yang diharapkan.

Bagi nama-nama yang belum terpilih, jangan sungkan dan ragu untuk mengikuti segala kegiatan kami, karena pintu kami terbuka selebar-lebarnya untuk anda!

STRES PADA REMAJA

Masa remaja ialah masa-masa yang rentan terhadap stress. Stress yang dialami ialah mengenai proses tumbuh menjadi dewasa dan mencari jati diri, tetapi stress yang kronis akan sangat berbahaya bagi kesehatan mental remaja. Stres juga bisa disebabkan karena kecemasan yang berlebihan, pola makan tidak teratur, penyalahgunaan obat-obatan, dan masih banyak lagi.
Stres sendiri memiliki arti sebuah perasaan yang sangat dalam bahkan menekan seseorang ketika memikiki hal yang belum tercapai.
Dilansir dari Psychoshare.com, Penyebab umum stress pada remaja ialah korteks prefrontal belum sepenuhnya berkembang sampai usia 25 tahun, dan mengalami perubahan dramatis selama tahun-tahun remaja. Korteks prefrontal itu seperti sebuah pusat kontrol yang mengendalikan memori, pengambilan keputusan, dan atensi. Jika stress terjadi terus-menerus dan berulang-ulang, maka akan menyebabkan penurunan di tiga kemampuan tersebut.
Dikutip dari jw.org.id, penyebab umum depresi pada remaja ialah:
Faktor BiologisStres bisa saja diturunkan dari genetic, yang bisa mempengaruhi aktifitas kimia di dalam otak.
Stres Stres yang ringan bisa bermanfaat, berbeda dengan stress berat yang berlangsung lama dan berat pada remaja yang tidak stabil, akan sangat berbahaya.

Dikutip dari pulauherbal.com, gejala-gejala stress pada remaja yang dapat berlangsung lebih dari 2 minggu seperti:
Hilangnya minta terhadap kegiatan yang biasanya disukai.
Hilangnya selera makan.
Terlihat seperti orang lelah, merasa tak berharga dan tak punya harapan.
Adanya rasa bersalah berlebihan dan tak pada tempatnya.
Adanya rasa sedih berlebihan.
Merasa pusing dan sakit perut.
Kadang mempunyai keinginan untuk mati dan bunuh diri.
Jadi, menjaga kesehatan pikiran itu sangat penting, khususnya pada remaja yang masih belum stabil. Jika kesehatan pikiran terganggu, akan berdampak pada kesehatan mental di masa yang akan datang. Jika pikiran yang sakit, tubuh pun akan sakit. Dengan meluapkan isi hati kepada seseorang yang dipercaya, akan mengurangi stress yang sedang dialami.
Sumber:

Gejala-Gejala Stress Yang Biasanya Dialami Oleh Pada Remaja


https://www.jw.org/id/publikasi/majalah/sadarlah-no1-februari-2017/bantuan-untuk-remaja-depresi/
http://www.psychoshare.com/file-1691/psikologi-remaja/stres-rentan-bagi-perkembangan-otak-remaja.html

Gejala-Gejala Stress Yang Biasanya Dialami Oleh Pada Remaja


http://www.psychoshare.com/file-1691/psikologi-remaja/stres-rentan-bagi-perkembangan-otak-remaja.html

ASERTIFITAS PADA REMAJA

Munculnya fenomena kecenderungan kenakalan remaja yang masih berstatus sebagai pelajar akhir-akhir ini menjadi permasalahan yang mengkhawatirkan baik dari perspektif pendidikan, psikologi, sosial, maupun budaya. Fenomena ini merupakan bukti dari lemahnya moral dan regulasi diri di kehidupan remaja yang semakin melemah .
Kemudahan mengakses informasi akibat dampak dari kemajuan teknologi memunculkan pemikiran – pemikiran modern yang tidak sesuai dengan norma – norma sosial yang ada di dalam masyarakat. Hal ini memicu timbulnya masalah sosial remaja di lingkungan nya, baik di keluarga, lingkungan pendidikan maupun di lingkungan masyarakat. Sebagai contoh, gambaran tentang banyaknya remaja Indonesia mengalami masalah sosial yang ditunjukkan dalam bentuk perbuatan kriminal, asusila, dan pergaulan bebas; masalah budaya dalam bentuk kehilangan identitas diri, terpengaruh budaya barat; dan masalah degradasi moral yang diwujudkan dalam bentuk kurang menghormati orang lain, tidak jujur sampai ke usaha menyakiti diri seperti mengkonsumsi narkoba, mabuk – mabukan dan bunuh diri (Puspitawati, 2009, 2010).
Data menunjukkan adanya peningkatan kenakalan remaja dari tahun ketahun diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS), Pada tahun 2013 angka kenakalan remaja di Indonesia mencapai 6325 kasus, sedangkan pada tahun 2014 jumlahnya mencapai 7007 kasus dan pada tahun 2015 mencapai 7762 kasus. Artinya dari tahun 2013 – 2014 mengalami kenaikan sebesar 10,7%, kasus tersebut terdiri dari berbagai kasus kenakalan remaja diataranya, pencurian, pembunuhan, pergaulan bebas dan narkoba. Dari data tersebut kita dapat mengetahui pertumbuhan jumlah kenakalan remaja yang terjadi tiap tahunnya .
Penelitian (Gillen, 2003; Uyun & Hadi, 2005; Sert, 2003; Marini & Andriani, 2005; Sikone, 2007; Puspitawati, 2009) menunjukkan bahwa para remaja terjerumus dalam hal negatif seperti tawuran, narkoba, seks bebas, salah satunya disebabkan oleh kepribadian yang lemah yaitu ketidakmampuan para remaja untuk bersikap asertif.
Asertivitas merupakan kemampuan seseorang untuk mengekspresikan diri, pandangan-pandangan dirinya, dan menyatakan keinginan dan perasaan diri secara langsung, jujur, dan spontan tanpa merugikan diri sendiri dan melanggar hak orang lain. Asertivitas dalam perspektif pendidikan merupakan domain keterampilan sosial (social skills) diantara kerja sama (cooperation), tanggung jawab (responsibility), dan self-control (Sivin-Kachala & Bialo, 2009), empathy (Elliot & Gresham dalam Golden, 2002), problem behavior (Chong & Li, Jen-Yi, 2008).
Berdasarkan uraian di atas, asertivitas memiliki peran penting pada kehidupan dalam masyarakat. Asertivitas diusia remaja memudahkan remaja bersosialisasi di dalam lingkungannya, menghindari konflik karena bersikap jujur dan terus terang, dan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi secara efektif. Kondisi ini dalam pandangan Habermas disebut distorsi komunikasi yaitu ketidakmampuan para remaja memahami atau sengaja tidak mau untuk menyepakati aturan-aturan budaya, masyarakat, dan komunitas, sehingga para remaja terlibat dalam perilaku negatif.

5 MITOS KELIRU DALAM PSIKOLOGI

Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai psikologi mengakibatkan beredarnya mitos-mitos keliru dalam psikologi. Bukan hanya di Indonesia, begitu juga di luar negeri. Mitos-mitos tesebut dipercaya benar, padahal sebenarnya keliru. Scott O. Lilienfield dkk menemukan fakta-fakta keliru dalam psikologi dalam bukunya yang berjudul “50 Mitos Keliru Dalam Psikologi”.

Mitos pertama, “Sebagian besar orang hanya menggunakan 10% kekuatan otak mereka”. Banyak orang yang percaya dengan hal ini, padahal kepercayaan ini adalah hal yang keliru. Menurut Scott dkk, jika seseorang mengalami kecelakaan dan menyisakan 10% kemampuan otak saja, otak kita tak akan bisa bekerja normal. Ini membuktikan bahwa kemampuan otak manusia bukan hanya 10%. Mitos ini awalnya dicetuskan William James, “Rata-rata orang hanya menggunakan 10% kemampuan intelektual mereka” tetapi perkataannya diplesetkan para ahli menjadi “kemampuan otak”.
Mitos kedua “Hipnosis berguna untuk mengeluarkan kenangan akan kejadian yang terlupakan”. Menurut Scott dkk, hypnosis belum tentu hasilnya akurat. Jika alam bawah sadar mereka diminta untuk berbohong, maka jawaban yang keluar adalah kebohongan. Maka dari itu, kasus kriminal tak bisa diselesaikan menggunakan hypnosis, karna hasilnya yang tidak akurat.
Mitos ketiga “Sesuatu yang berbeda saling tarik menarik dalam hal cinta”. Ini adalah hal yang paling sering kita dengar. Misalnya orang yang pendiam akan tertarik dengan orang yang lebih cerewet, orang kaya akan tertarik dengan orang miskin, ini kepercayaan akibat perfilman yang ada. Menurut penelitian, kriteria pasangan yang diinginkan tak jauh berbeda dengan sifat pribadi yang dimiliki. Intinya, saat seseorang mencari pasangan. Ia akan mencari yang memiliki nilai yang hampir sama dengannya.
Mitos keempat, “Sebagian orang sakit jiwa kejam”. Kita banyak menemukan di film-film orang gila berlari-lari dengan pisau yang mengacung, melakukan kekerasan, dll. Padahal faktanya, 90% orang yang memiliki penyakit jiwa serius tidak pernah melakukan kekerasan. malah sebaliknya. mereka yang dapat perlakuan kekerasan. Sekali lagi perfilman membuat kita menyimpulkan hal yang belum benar adanya.
Mitos kelima, “Orang bisa mepelajari informasi, seperti bahasa saat tidur”. Banyak yang mempercayai, saat kita tidur dan mendengarkan pelajaran, itu akan tersimpan di alam bawah sadar, dan suatu saat akan muncul di ingatan kita. Hal ini keliru. Apakah yang dimaksud tiduran sambil mendengarkan pelajaran, tetapi tidak tidur bisa saja terjadi.
Inilah 5 mitos dari 50 mitos yang ada dalam buku “50 Mitos Keliru dalam Psikologi”. Mencari informasi sebelum mempercayai sesuatu adalah hal yang sangat penting, apakah hasil itu akurat dan dari sumber yang terpercaya yang dapat kita percayai. Atau berasal dari sumber-sumber yang hanya menyebarkan hoax. Sekali lagi telitilah dalam menelaah informasi.

Sumber:
http://uswatunast.blogspot.co.id/2015/09/10-mitos-yang-keliru-di-psikologi-dan.html

Mirisnya Pandangan Masyarakat terhadap Orang yang Memiliki Gangguan Jiwa

Gangguan jiwa adalah gangguan otak yang ditandai dengan terganggunya emosi, proses berfikir, perilaku dan persepsi (penangkapan panca indera). Menurut Stuart & Sunden (1998), gangguan jiwa dapat menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita dan keluarganya. Setiap orang memiliki peluang untuk mengalami gangguan jiwa, gangguan jiwa tidak mengenal ras, umur, agama maupun status sosial-ekonomi.

Di kalangan masyarakat awam, orang yang mengalami gangguan jiwa dianggap sebagai hal yang memalukan, dan masyarakat cenderung mengabaikan, mengucilkan bahkan mengurung mereka, tanpa menghiraukan kebutuhan mereka akan makanan dan kebersihan. Contoh kasus penganiayaan orang gila yang terjadi di Indonesia yang paling banyak adalah pemasungan, pada tahun 2014, ada 1.274 kasus pemasungan yang dilaporkan di 21 provinsi di Indonesia, dan pada tahun 2016 di Provinsi Jawa Timur, terdapat 1.200 orang yang menjadi korban pemasungan. Tingginya angka pemasungan ini memperlihatkan kurangnya perhatian masyarakat sekitar dan pemerintah untuk memenuhi hak-hak mereka. Ketidaksanggupan keluarga untuk mengakses rumah sakit jiwa juga menjadi alasan utama banyaknya kasus pemasungan di Indonesia, dan juga dikarenakan kurangnya pemahaman masyarakat tentang hakikat sebenarnya orang yang mengalami gangguan jiwa.

Pada dasarnya, hak orang yang mengalami gangguan jiwa telah diatur dalam pasal 42 UU tentang HAM yang berbunyi “Setiap warga negara yang berusia lanjut, cacat fisik dan atau cacat mental berhak memperoleh perawatan, pendidikan, pelatihan, dan bantuan khusus atas biaya negara, untuk menjamin kehidupan yang layak sesuai dengan martabat kemanusiaannya, meningkatkan rasa percaya diri, dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.” Dan hal tersebut juga terdapat dalam Pasal 149 UU Kesehatan: “Penderita gangguan jiwa yang terlantar, menggelandang, mengancam keselamatan dirinya dan/atau orang lain, dan/atau mengganggu ketertiban dan/atau keamanan umum wajib mendapatkan pengobatan dan perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan.”

Dalam pasal tersebut terlihat bahwa sebenarnya negara menjamin hak-hak orang yang memiliki kecacatan mental dan gangguan jiwa. Menurut data Kementerian Kesehatan tahun 2013, ada 8 provinsi di Indonesia yang belum memiliki rumah sakit jiwa, bahkan ada 5 provinsi yang tidak memiliki tenaga profesional kesehatan jiwa atau psikiater. Hal ini menunjukan bahwa fasilitas yang diberikan negara untuk mengakses rumah sakit jiwa atau psikolog masih sangat minim. Jika hal ini terus berlangsung, maka akan semakin banyak orang yang menderita sakit jiwa terlantar.

Pada dasarnya, orang yang mengalami gangguan jiwa adalah orang yang sakit, membutuhkan penanganan, penyembuhan dan perlindungan dari orang-orang disekitarnya, mereka sama seperti orang-orang yang mengalami sakit secara fisik, misalnya orang yang sakit Demam berdarah, kanker, patah tulang dll, sedangkan orang yang memiliki gangguan jiwa adalah irang yang mental atau psikisnya terganggu, mereka sama-sama berada dalam konsep “sakit”. Masih banyak masyarakat yang belum tahu tentang ciri-ciri orang yang memiliki kecenderungan untuk mengalami gangguan jiwa, Padahal sebenarnya, jika orang yang mengalami gangguan jiwa pada awalnya mendapatkan penanganan yang tepat, maka kesempatan mereka untuk sembuh menjadi lebih besar.

Mari secara perlahan kita mengubah paradigma dan stigma negatif kita terhadap orang yang memiliki gangguan jiwa, hari ini memang bukan kita yang mengalaminya, tapi bisa jadi besok atau lusa saudara, kerabat dan orang-orang disekitar kita bisa terkena gangguan jiwa, bagaimana jika engkau melihat saudaramu dikucilkan oleh masyarakat? Dijadikan bahan tertawaan oleh anak-anak? Tentu saja kita tak ingin hal-hal tersebut terjadi pada orang-orang disekitar kita, oleh karena itu mari kita sama-sama menolong mereka, sudah seharusnya kita sebagai orang yang saat ini masih sehat secara fisik dan psikis untuk membantu mereka yang saat ini jiwanya sedang sakit, berhenti mengabaikan dan mengucilkan apalagi sampai memasung mereka.

Daftar Pustaka
Stuart, G.W.1998. Keperawatan Jiwa, Terj. Jakarta : ECG

BLUSUKAN ILMIAH: Pengaruh Media Sosial dalam Membentuk Kepribadian Generasi Millenial

PicsArt_06-09-03.22.19[1]

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah merubah cara interaksi individu dengan individu yang lain. Media sosial menjadi sebuah ruang digital baru yang menciptakan sebuah ruang kultural. Menanggapi fenomena tersebut, Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia Wilayah IV (D.I.Yogyakarta) mengadakan Blusukan Ilmiah dengan tema “Pengaruh Media Sosial dalam Membentuk Kepribadian Generasi Milineal”. Blusukan Ilmiah ini diselenggarakan di Ruang 1, Kampus STIPSI JOGJA pada hari Jumat, 9 Juni 2017 bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa STIPSI JOGJA.

Blusukan ilmiah ini merupakan blusukan ilmiah pertama yang diselenggarakan pada periode 2017-2018. Acara ini dimulai pada pukul 14.00 WIB. Dalam pembukaan acara blusukan ilmiah tersebut terdapat 2 sambutan, yaitu sambutan dari Nur Azisah Akram selaku Ketua BEM STIPSI JOGJA dan Nurasmah selaku Koordinator Wilayah ILMPI Wilayah IV (D.I.Yogyakarta).

Pada pukul 14.15 WIB, Nuryaqutul Kholbianawati selaku MC menyerahkan acara kepada Nisrina Nazih Ma’rufah sebagai Moderator dalam acara ini. Kemudian dilanjutkan dengan pengantar diskusi oleh Inggrid Putri Diandini selaku pemantik pada pukul 14.18 WIB dan diskusi pada pukul 14.40 WIB. Diskusi berlangsung dengan sangat baik, para peserta sangat berperan aktif dan memperlihatkan antusias dalam diskusi tersebut. Diskusipun selesai pada pukul 15.28 WIB. Acara blusukan ilmiah ini ditutup dengan sesi foto bersama.

Pembahasan Blusukan Ilmiah kali ini dapat dilihat disini.

CONGRATULATION!! STAFF BADAN KELENGKAPAN WILAYAH IV PERIODE 2017-2018

Badan Kesekretariatan (Nizma_082343872126)

  1. Nining Triastuti (Universitas Mercu Buana Yogyakarta)
  2. Pebriani Cahyawati (Universitas Aisyiyah Yogyakarta)
  3. Fitrah Auliya (Universitas Islam Indonesia)

Badan Keuangan (Ade Irma_082338230703)

  1. Bunga Aulia Hasnandya (Universitas Islam negeri SuKa)
  2. Tiwi Utari (Universitas Teknologi Yogyakarta)
  3. Reshmawati Yuliasani Effendi (Universitas Islam Indonesia)

Badan Informasi dan Komunikasi (Emira_085869681901)

  1. Anisa Citra Nurfalaq (Universitas Mercu Buana Yogyakarta)
  2. Intan Janet (Sekolah Tinggi Psikologi Yogyakarta)
  3. Ade Rizki (Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa)

Badan Pengembangan Organisasi (Ari Pranata_082175896409)

  1. Monica Rima Dewi (Sekolah Tinggi Psikologi Yogyakarta)
  2. Homi Triawan (Universitas Islam negeri SuKa)
  3. Riki Kosasih (Universitas Negeri Yogyakarta)
  4. Siril Wafa (Universitas Teknologi Yogyakarta)
  5. Justika Siti Arafah (Universitas Teknologi Yogyakarta)

Badan Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (Monica_082221350448)

  1. Dadang Slamet (Sekolah Tinggi Psikologi Yogyakarta)
  2. Taufik Dinumurti (Universitas Mercu Buana Yogyakarta)
  3. Marcelina Viodhy Ardiyaari Trinidya (Universitas Sanata Dharma)
  4. Atika Rahmawati (Universitas Ahmad Dahlan)
  5. Faturrohman (Universitas Mercu Buana Yogyakarta)

Badan Pengembangan dan Pengkajian Keilmuan (Feri_085234713366)

  1. Hudznuza Jalil (Universitas Teknologi Yogyakarta)
  2. Risma Inayah (Universitas Islam negeri SuKa)
  3. Nisrina Nazih Ma’rufah (Sekolah Tinggi Psikologi Yogyakarta)
  4. Inggrid Putri Diandini (Universitas Islam negeri SuKa)
  5. Ahmad Saleh (Universitas Mercu Buana Yogyakarta)

 

Selamat kepada staff yang terpilih!!

 

Follow our official account:

Instagram: ILMPI_Wil4

Twitter: @ILMPI_Wil4

Facebook: ILMPI Wilayah IV

Website: www.ilmpi.org

OPEN RECRUITMENT PENGURUS WILAYAH ILMPI PERIODE 2017-2018

Backup_of_Ribbon #1 project V14

Hallo hallo!!

Saat yang ditunggu-tunggu telah datang!!

ILMPI Wilayah IV akan melaksanakan rekrutmen staf badan kelengkapan wilayah, dengan rincian:

  1. Staff Badan Kesekretariatan Wilayah
  2. Staff Badan Keuangan Wilayah
  3. Staff BadanInformasi dan Komunikas iWilayah
  4. Staff Badan Pengembangan Organisasi
  5. Staff Badan Pengembangan dan Pengkajian Keilmuan
  6. Staff Badan Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat

 

KRITERIA PENDAFTARAN:

  1. Mahasiswa psikologi yang masih aktif.
  2. Mempunyai minat, komitmen dan tanggungjawab yang tinggi.
  3. Mempunyai kompetensi sesuai dengan bidang yang diminati.

 

PROSEDUR PENDAFTARAN

  1. Delegasi adalah seseorang yang direkomendasikan oleh LEM/BEM/HIMA, dalam artian orang terpercaya dari Perguruan Tinggi masing- masing, sehingga delegasi tersebut merupakan orang yang tepat dan harapannya bias menjadi kader pemimpin yang hebat baik untuk ILMPI maupun organisasinya masing- masing.
  2. Pendaftaran Pengurus Wilayah dibuka sejak tanggal 19 Februari 2017 sampai dengan 28 Februari 2017.
  3. Mengisi formulir pendaftaran yang sudah disediakan dan menyerahkannya kepada pengurus LEM/BEM/HIMA masing-masing. (formulir tersedia di masing-masing LEM/BEM/HIMA, atau bisa diunduh di blog resmi ILMPI Wilayah IV (wilayah4.ilmpi.org)
  4. Formulir dikirim via email ke alamat ilmpi.wilayahiv@gmail.com sebelum tanggal yang ditetapkan.
  5. Seleksi pertama akan dilakukan oleh pengurus LEM/BEM/HIMA yang menghasilkan nama-nama delegasi untuk direkomendasikan sebagai pengurus ILMPI Wilayah IV. Hasil seleksi diserahkan kepada Koordinator Badan Kesekretariatan Wilayah IV ( Nizma Triana ) pada tanggal 28 Februari 2017.
  6. Seleksi yang kedua akan dilakukan oleh Koordinator Wilayah serta Pengurus Harian ILMPI Wilayah IV pada tanggal 1 Maret 2017.
  7. Hasil seleksi akan diumumkan pada tanggal 2 Maret 2017 melalui website resmi ILMPI Wilayah IV (wilayah4.ilmpi.org).

 

GAMBARAN DESKRIPSI KERJA BADAN KELENGKAPAN ILMPI WILAYAH IV

Badan Kesekretariatan Wilayah

  1. Bertanggung jawab sebagai fungsi kesekretariatan ILMPI Wilayah IV.
  2. Bertanggung jawab pada Koordinator Badan Kesekretariatan ILMPI Wilayah IV.
  3. Bertanggung jawab dalam pengumpulan data base keanggotaan maupun hasil- hasil kegiatan ILMPI Wilayah IV.

Badan Keuangan Wilayah

  1. Bertanggung jawab mengelola keuangan ILMPI Wilayah IV.
  2. Bertanggung jawab pada Koordinator Badan Keuangan ILMPI Wilayah IV.
  3. Mencari pendanaan tambahan yang tidak mengikat untuk organisasi.

Badan Informasi dan Komunikasi Wilayah

Internal

  1. Bertanggung jawab dalam mengkomunikasikan segala informasi dan hasil-hasil kegiatan ILMPI ke seluruh anggota.
  2. Membuat sistem jaringan komunikasi yang efektif dalam internal organisasi.
  3. Membuat, mengembangkan dan merawat media komunikasi yang digunakan untuk penyaluran informasi.

Eksternal

Bertanggungjawab dalam menjalin hubungan eksternal dengan organisasi/ instansi di luar organisasi baik dalam lingkup Wilayah, Nasional maupun Internasional.

Badan Pengembangan Organisasi Wilayah

  1. Bertanggung jawab menjalankan fungsi bidang Pengembangan Organisasi dalam lingkup Wilayah.
  2. Bertanggung Jawab pada Koordinator Badan Bidang Pengembangan Organisasi ILMPI Wilayah IV
  3. Menjalankan program kerja nyata sesuai dengan ranah bidang ILMPI dalam lingkup wilayah berdasarkan koordinasi dengan Kordinator Wilayah.

Badan Pengembangan Dan Pengkajian Keilmuan Wilayah

  1. Bertanggung jawab menjalankan fungsi bidang Pengembangan dan Pengkajian Keilmuan dalam lingkup Wilayah.
  2. Bertanggung Jawab pada Koordinator Badan Bidang Pengembangan dan Pengkajian Keilmuan ILMPI Wilayah IV
  3. Menjalankan program kerja nyata sesuai dengan ranah bidang ILMPI dalam lingkup wilayah berdasarkan koordinasi dengan Kordinator Wilayah.

Badan Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat Wilayah

  1. Bertanggung jawab menjalankan fungsi bidang Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat dalam lingkup Wilayah.
  2. Bertanggung Jawab pada Koordinator Badan Bidang Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat Keilmuan ILMPI Wilayah IV.
  3. Menjalankan program kerja nyata sesuai dengan ranah bidang ILMPI dalam lingkup wilayah berdasarkan koordinasi dengan Kordinator Wilayah.

 

Form pendaftaran bisa kamu dapatkan disini.

Info selengkapnya:

082346584786 (Nurasmah)

082343872126 (Nizma Triana)

085869681901 (Emira Salma)

 

Hari Kesehatan Mental Sedunia: Lihat, Sadar, dan Gerak!

IMG-20161010-WA0003Istilah Kesehatan Mental diambil dari konsep mental hygiene, kata mental berasal dari bahasa Yunani yang berarti Kejiwaan. Kata mental memilki persamaan makna dengan kata Psyhe yang berasal dari bahasa latin yang berarti Psikis atau Jiwa, jadi dapat diambil kesimpulan bahwa mental hygiene berarti mental yang sehat atau kesehatan mental. Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari keluhan dan gangguan mental baik berupa neurosis maupun psikosis (penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial). Menurut WHO (1947) sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental, dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO, 1947).
Penyesuaiaan diri berhubungan dengan cara-cara yang dipilih individu untuk mengolah rangsangan, ajakan dan dorongan yang datang dari dalam maupun luar  diri. Penyesuaian diri yang dilakukan oleh pribadi yang sehat mental adalah penyesuaian diri yang aktif dalam pengertian bahwa individu berperan aktif dalam pemilihan cara-cara pengolahan rangsang itu. Individu tidak seperti binatang atau tumbuhan hanya reaktif terhadap lingkungan. Dengan kata lain individu memiliki otonomi dalam menanggapi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Bagaimana seorang yang sehat mentalnya?
Kesehatan mental seseorang sangat erat kaitannya dengan tuntutan-tuntutan masyarakat tempat ia hidup, masalah-masalah hidup yang dialami, peran sosial dan pencapaian-pencapaian sosialnya. Apabila mental dan jasmani individu tersebut sehat tentunya akan sedikit kemungkinan terjadinya gangguan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Jika mental individu tersebut sehat maka individu tersebut dapa terhindar dari gejala-gejala gangguan dan penyakit jiwa, sehingga ia dapat menyesuaikan diri dan dapat memanfaatkan segala potensi dan bakat yang dimiliki. Dengan keadaan mental yang sehat maka individu tersebut dapat bekembang secara optimal. Ciri-ciri orang yang sehat mental:

  1. Memiliki sikap batin (Attitude) yang positif terhadap dirinya sendiri.
  2. Aktualisasi diri ( kebutuhan naluriah pada manusia untuk melakukan yang terbaik dari yang dia bisa.)
  3. Mampu mengadakan integrasi dengan fungsi-fungsi psikis yang ada
  4. Mampu berotonom terhadap diri sendiri (Mandiri)
  5. Memiliki persepsi yang obyektif terhadap realitas yang ada
  6. Mampu menselaraskan kondisi lingkungan dengan diri sendiri. (Jahoda, 1980).
  7. Memiliki persepsi yang akurat terhadap realita,termasuk melihat realita sebagaimana adanya.
  8. Tidak menyangakal hal-hal buruk yang terjadi di masa lalunya dan masa kini.
  9. Memiliki penguasaan terhadap situasi, termasuk mempunyai kontrol diri di dalam mengasihi orang lain, di dalam pekerjaan termasuk dalam bersahabat dengan orang lain.
    Lalu, bagaimana dengan seorang yang mentalnya tidak sehat?
    Mental yang sehat tidak akan mudah terganggu oleh Stressor (penyebab terjadinya stres) orang yang memiliki mental sehat berarti mampu menahan diri dari tekanan-tekanan yang datang dari dirinya sendiri dan lingkungannya. (Noto Soedirdjo, 1980) menyatakan bahwa ciri-ciri orang yang memilki kesehatan mental adalah Memilki kemampuan diri untuk bertahan dari tekanan-tekanan yang datang dari lingkungannya.
    Dapat di tarik kesimpulan bahwa pada dasarnya hidup adalah proses penyesuaian diri terhadap seluruh aspek kehidupan, orang yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya akan gagal dalam menjalani kehidupannya. Manusia diciptakan untuk hidup bersama, bermasyarakat, saling membutuhkan satu sama lain dan selalu berinteraksi, hal ini sesuai dengan konsep sosiologi modern yaitu manusia sebagai makhluk Zoon Politicon .
    Sumber:
    HYPERLINK “file:///C:/Users/City/Downloads/Artikel%20Kesehatan%20Mental%20%20%252%09Artikel%20Indo” file:///C:/Users/City/Downloads/Artikel%20Kesehatan%20Mental%20%20%2 Artikel%20Indo esia.htm
    HYPERLINK “file:///C:/Users/City/Downloads/dentistry%20%20KONSEP%20SEHAT%20S” file:///C:/Users/City/Downloads/dentistry%20%20KONSEP%20SEHAT%20S KIT%20MENURUT%20WHO.htm