ASERTIFITAS PADA REMAJA

Munculnya fenomena kecenderungan kenakalan remaja yang masih berstatus sebagai pelajar akhir-akhir ini menjadi permasalahan yang mengkhawatirkan baik dari perspektif pendidikan, psikologi, sosial, maupun budaya. Fenomena ini merupakan bukti dari lemahnya moral dan regulasi diri di kehidupan remaja yang semakin melemah .
Kemudahan mengakses informasi akibat dampak dari kemajuan teknologi memunculkan pemikiran – pemikiran modern yang tidak sesuai dengan norma – norma sosial yang ada di dalam masyarakat. Hal ini memicu timbulnya masalah sosial remaja di lingkungan nya, baik di keluarga, lingkungan pendidikan maupun di lingkungan masyarakat. Sebagai contoh, gambaran tentang banyaknya remaja Indonesia mengalami masalah sosial yang ditunjukkan dalam bentuk perbuatan kriminal, asusila, dan pergaulan bebas; masalah budaya dalam bentuk kehilangan identitas diri, terpengaruh budaya barat; dan masalah degradasi moral yang diwujudkan dalam bentuk kurang menghormati orang lain, tidak jujur sampai ke usaha menyakiti diri seperti mengkonsumsi narkoba, mabuk – mabukan dan bunuh diri (Puspitawati, 2009, 2010).
Data menunjukkan adanya peningkatan kenakalan remaja dari tahun ketahun diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS), Pada tahun 2013 angka kenakalan remaja di Indonesia mencapai 6325 kasus, sedangkan pada tahun 2014 jumlahnya mencapai 7007 kasus dan pada tahun 2015 mencapai 7762 kasus. Artinya dari tahun 2013 – 2014 mengalami kenaikan sebesar 10,7%, kasus tersebut terdiri dari berbagai kasus kenakalan remaja diataranya, pencurian, pembunuhan, pergaulan bebas dan narkoba. Dari data tersebut kita dapat mengetahui pertumbuhan jumlah kenakalan remaja yang terjadi tiap tahunnya .
Penelitian (Gillen, 2003; Uyun & Hadi, 2005; Sert, 2003; Marini & Andriani, 2005; Sikone, 2007; Puspitawati, 2009) menunjukkan bahwa para remaja terjerumus dalam hal negatif seperti tawuran, narkoba, seks bebas, salah satunya disebabkan oleh kepribadian yang lemah yaitu ketidakmampuan para remaja untuk bersikap asertif.
Asertivitas merupakan kemampuan seseorang untuk mengekspresikan diri, pandangan-pandangan dirinya, dan menyatakan keinginan dan perasaan diri secara langsung, jujur, dan spontan tanpa merugikan diri sendiri dan melanggar hak orang lain. Asertivitas dalam perspektif pendidikan merupakan domain keterampilan sosial (social skills) diantara kerja sama (cooperation), tanggung jawab (responsibility), dan self-control (Sivin-Kachala & Bialo, 2009), empathy (Elliot & Gresham dalam Golden, 2002), problem behavior (Chong & Li, Jen-Yi, 2008).
Berdasarkan uraian di atas, asertivitas memiliki peran penting pada kehidupan dalam masyarakat. Asertivitas diusia remaja memudahkan remaja bersosialisasi di dalam lingkungannya, menghindari konflik karena bersikap jujur dan terus terang, dan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi secara efektif. Kondisi ini dalam pandangan Habermas disebut distorsi komunikasi yaitu ketidakmampuan para remaja memahami atau sengaja tidak mau untuk menyepakati aturan-aturan budaya, masyarakat, dan komunitas, sehingga para remaja terlibat dalam perilaku negatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *