Mirisnya Pandangan Masyarakat terhadap Orang yang Memiliki Gangguan Jiwa

Gangguan jiwa adalah gangguan otak yang ditandai dengan terganggunya emosi, proses berfikir, perilaku dan persepsi (penangkapan panca indera). Menurut Stuart & Sunden (1998), gangguan jiwa dapat menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita dan keluarganya. Setiap orang memiliki peluang untuk mengalami gangguan jiwa, gangguan jiwa tidak mengenal ras, umur, agama maupun status sosial-ekonomi.

Di kalangan masyarakat awam, orang yang mengalami gangguan jiwa dianggap sebagai hal yang memalukan, dan masyarakat cenderung mengabaikan, mengucilkan bahkan mengurung mereka, tanpa menghiraukan kebutuhan mereka akan makanan dan kebersihan. Contoh kasus penganiayaan orang gila yang terjadi di Indonesia yang paling banyak adalah pemasungan, pada tahun 2014, ada 1.274 kasus pemasungan yang dilaporkan di 21 provinsi di Indonesia, dan pada tahun 2016 di Provinsi Jawa Timur, terdapat 1.200 orang yang menjadi korban pemasungan. Tingginya angka pemasungan ini memperlihatkan kurangnya perhatian masyarakat sekitar dan pemerintah untuk memenuhi hak-hak mereka. Ketidaksanggupan keluarga untuk mengakses rumah sakit jiwa juga menjadi alasan utama banyaknya kasus pemasungan di Indonesia, dan juga dikarenakan kurangnya pemahaman masyarakat tentang hakikat sebenarnya orang yang mengalami gangguan jiwa.

Pada dasarnya, hak orang yang mengalami gangguan jiwa telah diatur dalam pasal 42 UU tentang HAM yang berbunyi “Setiap warga negara yang berusia lanjut, cacat fisik dan atau cacat mental berhak memperoleh perawatan, pendidikan, pelatihan, dan bantuan khusus atas biaya negara, untuk menjamin kehidupan yang layak sesuai dengan martabat kemanusiaannya, meningkatkan rasa percaya diri, dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.” Dan hal tersebut juga terdapat dalam Pasal 149 UU Kesehatan: “Penderita gangguan jiwa yang terlantar, menggelandang, mengancam keselamatan dirinya dan/atau orang lain, dan/atau mengganggu ketertiban dan/atau keamanan umum wajib mendapatkan pengobatan dan perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan.”

Dalam pasal tersebut terlihat bahwa sebenarnya negara menjamin hak-hak orang yang memiliki kecacatan mental dan gangguan jiwa. Menurut data Kementerian Kesehatan tahun 2013, ada 8 provinsi di Indonesia yang belum memiliki rumah sakit jiwa, bahkan ada 5 provinsi yang tidak memiliki tenaga profesional kesehatan jiwa atau psikiater. Hal ini menunjukan bahwa fasilitas yang diberikan negara untuk mengakses rumah sakit jiwa atau psikolog masih sangat minim. Jika hal ini terus berlangsung, maka akan semakin banyak orang yang menderita sakit jiwa terlantar.

Pada dasarnya, orang yang mengalami gangguan jiwa adalah orang yang sakit, membutuhkan penanganan, penyembuhan dan perlindungan dari orang-orang disekitarnya, mereka sama seperti orang-orang yang mengalami sakit secara fisik, misalnya orang yang sakit Demam berdarah, kanker, patah tulang dll, sedangkan orang yang memiliki gangguan jiwa adalah irang yang mental atau psikisnya terganggu, mereka sama-sama berada dalam konsep “sakit”. Masih banyak masyarakat yang belum tahu tentang ciri-ciri orang yang memiliki kecenderungan untuk mengalami gangguan jiwa, Padahal sebenarnya, jika orang yang mengalami gangguan jiwa pada awalnya mendapatkan penanganan yang tepat, maka kesempatan mereka untuk sembuh menjadi lebih besar.

Mari secara perlahan kita mengubah paradigma dan stigma negatif kita terhadap orang yang memiliki gangguan jiwa, hari ini memang bukan kita yang mengalaminya, tapi bisa jadi besok atau lusa saudara, kerabat dan orang-orang disekitar kita bisa terkena gangguan jiwa, bagaimana jika engkau melihat saudaramu dikucilkan oleh masyarakat? Dijadikan bahan tertawaan oleh anak-anak? Tentu saja kita tak ingin hal-hal tersebut terjadi pada orang-orang disekitar kita, oleh karena itu mari kita sama-sama menolong mereka, sudah seharusnya kita sebagai orang yang saat ini masih sehat secara fisik dan psikis untuk membantu mereka yang saat ini jiwanya sedang sakit, berhenti mengabaikan dan mengucilkan apalagi sampai memasung mereka.

Daftar Pustaka
Stuart, G.W.1998. Keperawatan Jiwa, Terj. Jakarta : ECG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *